Home » » Teknik Budidaya Selada

Teknik Budidaya Selada

Written By Muhammad Yusuf on Monday, November 14, 2011 | 3:08 PM


  1. Pengolahan dan persiapan lahan.
    Lakukan pengolahan lahan dengan cara dicangkul atau ditraktor, seperti yang biasa dilakukan, hingga lahan siap tanam dengan jarak tanam (20x25) cm atau (25x25) cm. Selanjutnya buat bedengan dengan lebar 1 m, jarak antar bedengan 25 cm. Jika tersedia, gunakan mulsa plastik perak untuk mengurangi serangan penyakit dan menekan pertumbuhan gulma. Pemasangan mulsa dilakukan ,setelah pemberian pupuk dasar.
  2. Pencegahan penyakit dan persemaian.
    Penyakit utama penyebab kegagalan panen pada tanaman selada adalah bengkak akar. Untuk mencegah atau mengendalikan penyakit tersebut dapat dilakukan sejak dini, yaitu dengan menggunakan ABG-BIO (pengendalian secara biologis) pada persemaian. Caranya: Aktifkan (1–2) bungkus ABG-BIO dengan (10–20) kg media semai (tanah dan pupuk kandang, dengan perbandingan 3:1 sampai 1:1), kemudian siram dengan air hingga lembab, simpan dalam bentuk gundukan dan tutup dengan karung bekas, biarkan selama (2-3) hari, kemudian sebar secara merata bersamaan dengan pupuk dasar. Atau larutkan 1 bungkus ABG-BIO + 0,5 kg dedak + 2 tutup ABG-D, dalam 10 liter air, aduk secara merata, dan biarkan selama (2–4) jam. Kemudian siramkan pada media persemaian sekitar (1–2) hari sebelum penebaran benih. Untuk mengurangi kematian dan menghindari stress, benih sebaiknya disemaikan dalam kokeran dari daun pisang berisi sekitar (50–75) gram media tanam. Pindah tanam dilakukan setelah bibit berumur sekitar 30 hari, ditanam 1 bibit/lubang tanam.
  3. Pemupukan.
    3.1. Budidaya dengan menggunakan mulsa.
    1. a. Pupuk dasar. Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCl + (100–200) kg ABG-Bios + (10-20) kg campuran media semai dan ABG-BIO yang telah diaktifkan (seperti tersebut di atas). Sebarkan campuran pupuk ini pada bedengan atau diberikan dalam lubang tanam sekitar (1–3) hari sebelum tanam. Selanjutnya dilakukan penutupan dengan mulsa plastik, dan pembuatan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam di atas. Penanaman bibit dilakukan (1–3) hari setelah pemasangan mulsa.
    2. Pupuk susulan. Pupuk susulan sebaiknya diberikan dalam bentuk larutan. Pemberian dilakukan dengan sistem cor, mulai 20 HST, yaitu larutkan 1 kg Urea + 1 kg SP-36 (harus ditumbuk dulu) + 1 kg KCl, atau gunakan 2 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + (1–2) kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-D, dalam 100 liter air (aduk secara merata). Selanjutnya siramkan sekitar 200 cc/tanaman (satu gelas aqua) pada perakaran tanaman setiap interval (7–10) hari.
    3. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dengan konsentrasi (2–3) cc/liter air, dilakukan pada 20 HST, 30 HST, 40 HST, 50 HST, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk mencegah penyakit bengkak akar dan merangsang pertumbuhan akar, berikan ABG-BIO setiap 2 minggu. Caranya: Larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam 50 liter air, aduk secara merata, dan biarkan selama (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman pada perakaran tanaman
    3.2. Budidaya konvensional (tanpa mulsa).
    1. Pupuk dasar. Pupuk yang digunakan, untuk lahan seluas 1 ha, adalah campuran (2–5) ton pupuk kandang + (150-200) kg ABG-Bios + (10-20) kg campuran media semai dan ABG-BIO yang telah diaktifkan (seperti tersebut di atas) + 100 kg Urea + 25 kg SP-36 + 50 kg KCl. Pupuk ditempatkan dalam lubang tugal dengan kedalaman 5 cm, berjarak sekitar 10 cm dari tanaman sekitar (1–3) hari sebelum tanam.
    2. Pupuk Susulan. Pupuk susulan dengan menggunakan campuran 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 100 kg KCl + 100 kg ABG-Bios, diberikan pada 20 HST, atau campuran 200 kg pupuk majemuk NPK (dengan formula 12-12-17) + (100–200) kg ABG-Bios. Pupuk ditempatkan di sekeliling tanaman dan selanjutnya dilakukan pembumbunan.
    3. Pupuk ABG. Pemberian pupuk ABG-D, dengan konsentrasi (2-3) cc/liter air, dilakukan pada 10 HST, 20 HST, dengan cara disemprotkan pada tanaman secara merata. Untuk mencegah penyakit bengkak akar berikan ABG-BIO setiap 2 minggu. Caranya: Larutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios, dalam 50 liter air, aduk secara merata, dan biarkan sekitar (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman pada perakaran tanaman.
  4. Pemeliharaan.
    Pemeliharaan meliputi penyiangan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
    • Penyiangan (weeding) dilakukan (2–3) kali, dengan menyingkirkan gulma di sekitar daerah perakaran.
    • Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) tidak dianjurkan dengan menggunakan pestisida untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.
  5. Panen.
    • Panen dilakukan mulai umur 60 HST
    • Cabut tanaman beserta akarnya, atau memotong bagian yang di atas tanah.
Share this article :

Post a Comment