Info Tanaman Perkebunan

Info Tanaman Perkebunan Lainnya »

Info Tanaman Hias

Info Tanaman Hias Lainnya »

Info Tanaman Sayuran

Info Tanaman Sayuran Lainnya »

Latest Post

TANAMAN MENGKUDU DAN KHASIATNYA

Written By Muhammad Yusuf on Friday, August 24, 2012 | 5:11 AM


Deskripsi Tanaman
Mengkudu merupakan tumbuhan asli Indonesia, penyebarannya dari Asia tropis sampai ke Polynesia. Mengkudu termasuk jenis kopi-kopian. dapat tumbuh dari daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan tanah. Tanaman ini mempunyai ketinggian 3 – 8 m, banyak bercabang dengan ranting bersegi empat. Daun letakknya berhadapan bersilang, memiliki tangkai daun, bentuknya bulat telur sampai berbentuk elips, panjang daun 10 – 40 cm, lebar 5 – 17 cm, tebal, mengkilap, tepi rata, ujung runcing, pangkal menyempit, tulang daun menyirip, warnanya hijau tua.

Bunga keluar dari ketiak daun, 5 – 8 dalam karangan berbentuk bonggol, dengan mahkota berbentuk tabung, bentuknya seperti terompet, berwarna putih.

Bunga berbau harum.

Buah mengkudu bertangkai, berbentuk bulat lonjong, berupa buah buni majemuk yang berkumpul menjadi satu sebagai buah yang besar. Panjang buah 5 – 10 cm, permukaan tidak rata berbenjol-benjol, warna hijau, jika masak berdaging dan berair, warnanya kulit pucat atau kuning kotor, berbau busuk, berisi banyak biji berwarna hitam.

Syarat Tumbuh
Mengkudu dapat tumbuh dari daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan tanah. Daerah yang dapat digunakan untuk budidaya mengkudu dapat berupa tegalan, lereng gunung, atau lahan bukaan. Sebaiknya mengkudu tidak ditanam di daerah yang terpolusi karena buahnya dapat menyerap polutan dengan kuat. Suhu yang dibutuhkan adalah 25 - 34°C dengan curah hujan 2.000 – 3.000 mm/tahun. Kelembaban udara relatif (RH) 50% - 70%  Mengkudu sebaiknya dibudidayakan pada jenis tanah alluvial, latosol dan podsolik merah kuning. Tanamanan ini akan tumbuh dan berproduksi optimal bila ditanam pada tanah yang subur, banyak mengandung bahan organik, memiliki aerasi dan drainase yang baik, serta mempunyai pH antara 5,5 – 6,5.

Budidaya Tanaman

Penyiapan Lahan
Lahan yang akan dijadikan areal budidaya mengkudu harus diolah terlebih dahulu, dibersihkan dari sisa-sisa akar, semak dan pepohonan. Setelah bersih, lahan digemburkan dengan menggunakan cangkul atau bajak. Kemiringan lahan hendaknya tidak lebih dari 45°. Pada lahan miring sebaiknya dibuat teras untuk menguragi erosi.

Setelah lahan tanam disiapkan, lubang tanam dapat dibuat dengan jarak 2,5 m x 2 m, 3 m x 3 m. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 2 – 4 minggu untuk mematikan hama dan menghilangkan senyawa atau zat beracun. Tanah galian dicampur dengan pupuk kandang sebanyak 20 – 40 kg per lubang tanam.

Penyiapan Bibit
Mengkudu dapat diperbanyak secara vegetatif yaitu dengan okulasi, cangkok atau kultur jaringan. Salah satu keunggulan perbanyakan secara vegetatif akan diperoleh bahan tanaman yang pertumbuhannya seragam dam potensi produksi relative sama dengan pohon induk. Selain perbanyakan vegetatif, mengkudu juga dapat diperbanyak dengan biji. Cara ini lebih mudah dan disukai oleh petani. Kelemahan perbanyakan dengan biji yaitu pertumbuhannya sering tidak seragam. Untuk mendapatkan bibit yang sehat, buah harus berasal dari pohon induk yang sehat, pertumbuhan normal, berumur minimal 10 tahun, dan berproduksi tinggi.

Buah yang akan diambil bijinya dibiarkan membusuk sampai daging buahnya terlepas, kemudian direndam dalam ember, biji yang tenggelam diambil, dikering anginkan, lalu disimpan dalam wadah kedap udara. Biji yang yang akan disemaikan harus direndam dalam air hangat kuku (suhu 55°C) selama 15 menit. Biji disemaikan pada polibeg berukuran 10 cm x 15 cm yang telah diisi media berupa campuran tanah dan pupuk kandang halus dengan perbandingan 1 : 1, kemudian polibeg diberi sungkup plastik transparan. Bibit yang sudah berdaun 2 – 4 helai dan memiliki ketinggian 10 – 15 cm sudah dapat dipindahkan ke kebun.

Penanaman
Bibit yang sudah siap tanam segera diambil dari persemaian. Bibit ditanam di lubang tanam yang sudah disiapkan sebanyak 1 bibit per lubang. Kemudian lubang tanam ditutup dengan tanah galian yang sudah dicampur dengan pupuk kandang.

Sebaiknya di sekitar bibit yang baru ditanam diberi mulsa jerami untuk menghindari pertumbuhan gulma dan menjaga kelembaban tanah.

Pemeliharaan
Pemupukan untuk budidaya mengkudu sebaiknya menggunakan pupuk organik yaitu pupuk kandang atau kompos dengan dosis 10 kg per tanaman pada tahun pertama. Untuk tahun selanjutnya dosis pupuk menjadi 15 – 20 kg per tanaman.

Pemberian pupuk dilakukan dengan cara membenamkannya dalam tanah di bawah lingkaran tajuk tanaman. Apabila menggunakan pupuk anorganik maka dapat diberikan campuran urea, TSP dan KCl sebanyak 100 g – 300 g/tanaman atau NPK sebanyak 300 g – 500 g/tanaman. Pada fase pembuahan sebaiknya diberi TSP dosis tinggi agar kontinu berbuah. Pupuk anorganik dapat diberikan setiap 1 – 2 bulan sekali tergantung keadaan pertumbuhan tanaman. Pemupukan sebaiknya dilakukan menjelang dan akhir musim hujan.

Pada awal penanaman mengkudu harus dijaga kelembaban tanah. Sebaiknya penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari. Intensitas penyiraman dapat disesuaikan dengan curah hujan dan iklim setempat. Penyiangan gulma sebaiknya dilakukan secara rutin 2 – 3 bulan sekali sampai tanaman berumur 2 – 3 tahun. Setelah itu penyiangan disesuaikan dengan kondisi

lahan. Untuk mengurangi serangan jamur yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi, sebaiknya dilakukan pemangkasan. Cabang yang dipangkas adalah cabang yang lemah, rusak, sakit dan tunas-tunas air.

Hama yang biasa menyerang mengkudu adalah ulat daun yang dapat memakan semua daun tanaman. Hama lain yang juga sangat mengganggu adalah kutu putih yang mengisap cairan di jaringan daun sehingga daun menguning dan mengering. Kedua hama ini tidak hanya menurunkan produksi tetapi juga dapat mematikan tanaman. Pengendalian serangan hama sebaiknya memanfaatkan pestisida nabati atau pengendalian mekanis dengan cara memangkas dan membakar bagian tanaman yang terserang. Penyakit yang biasanya menyerang mengkudu adalah kapang jelaga (Capnodium spp.) yang menutupi permukaan daun bagian atas hingga tampak berwarna kehitaman dan bercak daun (disebabkan jamur Physalospora morindae) yang menyebabkan daun berlubang.

Panen dan Pascapanen
Panen dapat dilakukan setelah tanamanan berumur 4 – 5 bulan, panen mengkudu dapat berlangsung setiap 2 minggu sekali. Produksi buah berkisar antara 500 – 1.000kg/ha.

Buah yang siap panen ditandai dengan warna kuliut merata putih kekuningan, tetapi daging buah cukup keras. Setelah dipanen buah harus segera dikonsumsi atau dikirim ke pabrik pengolahan mengkudu karena buah tidak tahan simpan dan mudah busuk.

Selain digunakan dalam bentuk segar, mengkudu juga dikemas dalam botolan berupa juice dan dalam bentuk kapsul.

Kandungan Kimia
Buah mengkudu mengandung alkaloid triterpenoid, skopoletin, acubin, alizarin, antraquinon, asam benzoate, asam oleat, asam palmitat, glukosa, eugenol, dan hexanal. Akar mengandung damnacanthal, sterol, resin, asperulosida, morindadiol, morindin, soranjidol, anatraquinon, dan glikosida. Kulit akar mengandung morindin, morindon, aligarin-d-methylether, soranjidiol, khlororubin, morindanigrin, antraquinon, monometil, eter, dan lain-lain. Daun mengandung protein, zat kapur, zat besi, karoten, arginin, asam glutamate, tirosin, asam askorbat, asam ursolat, thiamin dan antraquinon. Bunga mengandung glikosida antraquinon, dan acasetin-7-0-beta(+)-glukopiransoida. Tanaman ini juga mengandung minyak menguap asam capron dan asam caprylat.

Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian
Efek farmakologis mengkudu adalah menghilangkan hawa lembab pada tubuh, meningkatkan kekuatan tulang, pembersih darah, peluruh kencing (diuretic), peluruh haid (emenagog), pelembut kulit, obat batuk, obat cacing (anthelmintik), pencahar, antiseptik.

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk menguji efek farmakologis mengkudu adalah :
• Air perasan mengkudu dengan konsentrasi 10% sampai 40% dapat meningkatkan pengeluaran air seni dan elektrolit natrium serta kalium pada air seni tikus putih (Henry Kurnia Setiawan, 1995, FF UNIKA WIDMAN).
•  Dengan metode grafik menurut Miller dan Tainer, analisa regresi dan korelasi, didapatkan harga EC50 dan selanjutnya potensi daya anthelmintik perasan buah mengkudu terhadap cacingAscaridia galli secara in vitro dapat diketahui (Juliana, 1994, FF UNIKA WIDMAN).

Khasiat dan Cara Pemakaian

1. Peradangan usus dan disentri
Bahan : Mengkudu kering 10 g, temulawak kering 15 g, sambung nyawa 7 g, kunyit kering 5 g, Rumput mutiara kering 10 g
Pemakaian :
Semua bahan dicuci bersih, kemudian direbus dengan 6 gelas air hingga tersisa 3 gelas. Ramuan diminum 3 kali sehari masing-masing sebanyak 1 gelas, satu jam sebelum makan (Mahendra, 2005).

2. Batuk rejan
Bahan : Buah mengkudu masak 1 buah, daun waru muda 6 lembar, daun jinten 10 lembar, umbi bidara upas ½ jari, madu 1 sendok makan
Pemakaian :
Semua bahan dicuci bersih lalu ditumbuh halus. Tambahkan ¾ cangkir air masak dan 1 sendok makan madu. Diperas dan disaring. Diminum 2 kali sehari (Wijayakusuma, dkk, 1994).

3. Kencing manis
Bahan : Mengkudu kering 10 g, brotowali kering 10 g, sambiloto kering 10 g, kumis kucing kering 10 g, ciplukan kering 10 g, pulai kering 7 g
Pemakaian :
Semua bahan direbus menjadi satu dengan 9 gelas air hingga tersisa 5 gelas kemudian disaring dan diminum dalam keadaan hangat. Ramuan diminum satu jam sebelum makan sebanyak 3 kali sehari (Mahendra, 2005)

4. Kolesterol tinggi
Bahan : Buah mengkudu masak 1 - 2 buah, jahe merah 20 g, cuka apel 1 sendok makan, madu 1 sendok makan
Pemakaian :
Buah mengkudu dan jahe merah dicuci bersih tambahkan air secukupnya kemudian diblender. Juice yang diperoleh ditambah cuka apel dan madu sambil diaduk hingga rata. Ramuan tersebut diminum secara teratur sekali sehari (Rukmana, 2006).

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat
Penulis : Seksi Perlintan Hort 

Penyakit Bercak Coklat Pada Tomat


Penyebab 
Jamur  Alternaria Solani

Gejala Serangan
Mula –mula pada daun-daun yang sudah dewasa terjadi becak-becak kecil yang agak bulat. Berbatas jelas, tersebar tidak teratur, berwarna coklat tua. Becak meluas dengan lambat. Kelak becak-becak juga terdapat pada daun-daun yang agak muda. Becak yang telah meluas berwarna coklat tua, kering, dan mudah dibedakan dari becak yang disebabkan oleh penyakit-penyakit lain karena mempunyai cincin-cincin yang sepusat ( konsentris, target board spot )

Daur Penyakit
Jamur ini memepertahankan dari musim kemusim pada tanaman sakit, pada sisa-sisa tanaman sakit atau pada biji. Dalam jaringa daun dapt bertahan sampai satu tahun.  Jamur dapt disebarkan oleh angin dan dilaporkan juga disebarkan oleh kumbang-kumbang.

Pengendalian
Mengadakan pergiliran tanaman ( rotasi ) yang tepat . Menyemprot dengan fungisida kontak maupun sistemik.
Misalnya 2 kali penyemprotan menggunakan fungisida Raksasa 80 WP dengan dosis 30 gr/tangki (15 Liter)  dan penyemprotan berikutnya satu kali dengan menggunakan Heksa 50 SC 3 ml/tangki (15 Liter)

PENGENDALIAN PENYAKIT PADA TANAMAN TOMAT


Tomat, adalah salah satu tanaman yang rentan terkena penyakit yang diakibatkan oleh serangan virus. Hampir semua tomat yang ada saat ini belum ada yang memiliki daya tahan kuat bila sudah terserang. Disinyalir ada lebih dari 18 jenis virus yang menyerang tanaman tomat. Bahkan mungkin jumlah itu bisa bertambah.

Gejala Serangan
Gejala serangan virus sangat tergantung pada jenis virus yang menyerang, kultivar tanaman inang, dan keadaan lingkungan.

- Mosaik ini ditandai dengan wama belang pencampuran lebih dari satu wama. Mosaik pada daun biasanya berupa daun hijau yang tidak merata karena di beberapa bagian tercampur wama pucat atau kekuningan yang menyebar seperti percikan.

Mosaik adalah gejala daun yang memperlihatkan banyak daerah kecil berubah wama, yang kontras dengan warna asalnya dan cenderung berupa lingkaran terang seperti cincin. Pola bagian hijau yang bersiku kontras dengan wama kuning; daerah yang dikelilingi cincin klorotik yang memberikan mosaik kuning di atas warna hijau. Jika daerah warna yang berbeda jadi menyatu, akan menghasilkan gejala belang. TMV dan CMV merupakan contoh penyakit yang memiliki gejala seperti ini.

- Nekrosis yaitu kematian jaringan yang bisa terjadi pada urat daun, pada batang berupa garis-garis coklat, berupa bercak pada daun dan buah serta kematian pada titik tumbuh.

- Kerdil pada tomat ditandai pertumbuhan yang terhambat, ukuran lebih kecil baik pada bagian morfologi tanaman, daun, cabang ataupun buah.

- Malformasi yaitu terjadinya perubahan bentuk menjadi tidak sempuma atau tidak normal. Sering terjadi di daun atau buah.

- Klorosis ditandai wama pucat, baik pucat yang menyeluruh atau hanya berupa bercak saja Vein clearing yaitu warna pucat pada urat daun sehingga urat daun kelihatan transparan, mengkilap di antara warna daun yang hijau.

Langkah Pencegahan
Pergerakan virus ini hanya bisa terjadi bila ada yang membawa, baik itu organisme hidup seperti vektor atau pembawa lainnya, bagian dari tanaman yang terserang maupun manusia atau alat yang digunakan sewaktu memelihara tanaman.

Untuk mengendalikan virus maka perlu dikenali sifatnya, yaitu : bagaimana cara penyebaran dan penularannya, dan bagaimana perbanyakan tanaman tersebut. Ada juga pengendalian virus ini dengan menggunakan virus tular udara yang dibawa serangga untuk jenis virus tular tanah.

Beberapa cara untuk mengendalikan virus tomat ini antara lain dapat dilakukan dengan :

- Tanaman Perangkap
Virus tomat kebanyakan ditularkan melalui serangga. Aphid sebagai serangga pembawa virus, biasanya menyukai warna kuning cerah, penggunaan tanaman yang berwarna cerah sedikit banyak dapat menarik aphid dan serangga lainnya. Pada waktu hinggap aphid akan menusukkan stilelnya pada inang yangbenar. Sclama aphid menusuk-nusuk, virus non persisten yang ada pada stiletnya akan tercuci. Sehingga vims tersebut tidak akan tersebar pada tanaman tomat. Adapun tanaman yang dapat menjadi penarik (atraktan) bagi serangga tersebut adalah jenis tanaman kubis kubisan, jagung, serta bunga matahari.

- Sanitasi dan Eradikasi Sumber Infeksi
Gulma berdaun lebar diyakini sering menjadi inang dari virus ini dan harus dibersihkan. Begitu pula tanaman tomat yang sudah menunjukkan terkena serangan harus dibuang secepatnya dan diganti dengan tanaman yang sehat. Tanaman tomat agar dipangkas secara hati-hati dalam memilih cabang utamanya agar diperhatikan sisa-sisa pemangkasan tadi. Kemudian usahakan petani ataupun buruh tidak membawa rokok ataupun bekas rokok pada areal tanaman tomat karena rokok ini dapat menularkan virus mosaik tembakau yang mudah menular secara kontak.

- Penggunaan Benih Sehat
Saat ini hanya tiga jenis virus utama yang menyerang pertanaman tomat namun sangat penting karena dapat tertular melalui biji. Penelitian yang berkaitan dengan virus yang terbawa pada benih mengungkapkan bahwa ternyata dari 41 varietas tomat yang diuji, sebanyak 13 mengandung virus ToMV.

Meskipun virus lain tidak menular melalui biji, namun bila tanamannya terserang sebelum berbuah maka cairan buah tomatnya akan mengandung virus. Hal ini bisa menular pada kulit yang pada akhirnya kemungkinan tertularnya benih di persemaian tersebut bisa terjadi. Maka dalam hal ini pemilihan benih sehat dan unggul merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam mencegah timbulnya penyakit virus tersebut.

- Proteksi Silang
Mengingat belum ada obat untuk menangani penyakit oleh virus, maka pengendalian yang dilakukan dalam membasmi penyakit akibat virus ini lebih ditujukan pada upaya untuk pencegahan. Proteksi silang untuk imunisasi tanaman adalah upaya yang umum dilakukan pada tomat untuk mencegah infeksi virus yang lebih ganas. Pemberian imunisasi pada tomat dengan memberikan strain virus yang telah dilemahkan diharapkan mampu berfungsi sebagai sparing partner yang nantinya akan memiliki kemampuan untuk menolak virus yang sama dengan serangan lebih ganas. Adapun pengaruh pemberian strain virus pada tanaman tomat tidak akan terlalu merugikan disebabkan gejala yang diakibatkannya juga tidak terlalu parah sehingga produksinya tidak banyak berkurang. 

Hama dan Penyakit Tanaman Tomat


A. Hama

1.   Ulat buah tomat (Heliothis armigera Hubner.)
 Ciri: panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuning-kuningan, hijau kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap belakang berwarna putih dengan tepi coklat.
Gejala: ulat ini menyerang daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. Pengendalian: (1) ngengat tertarik pada cahaya ultraviolet sehingga dengan sinar tersebut diadakan perangkap; (2) telur dan ulat adapat dikumpulkan dan dibakar atau dimatikan; (3) ditepi kebun ditanam jagung untuk mengurangi serangan pada tanaman tomat; (4) tanaman liar disekitar areal pertanaman tomat dibersihkan; (5) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon dan Cymbush.

2.   Kutu daun apish hijau
Kutu ini termasuk famili Aphididae dari ordo Hemiptera yang sering disebut aphis tomat, aphis tembakau atau aphis kentang. Kutu hijau ini menjadi vektor (penyalur) virus sehingga tomat dapat terserang penyakit virus. Ciri: kutu ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Panjang kutu yang bersayap antara 2-2,5 mm, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai hitam dan perutnya hijau kekuning-kuningan. Ukuran antena sepanjang badannya. Panjang kutu yang tidak bersayap antara 1,8-2,3 mm berwarna hijau kekuning-kuningan. 
Gejala: daun tomat yang diserang bentuknya jelek, keriting, kerdil, melengkung ke bawah, menyempit seperti pita, klorosis, mosaik dan daun menjadi rapuh.
Pengendalian: (1) gulma di sekitar areal tanaman tomat harus dibersihkan karena dapat menjadi tempat berlindung kutu; (2) pengendalian secara mekanis dapat dilakukan dengan cara dipijit sehingga kutu aphis tersebut mati; (3) pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida.

3.   Lalat putih (kutu kabut, kutu kepul)
Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih. Ciri: Panjang kutu putih dewasa hanya ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan, tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Telur berbentuk elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun.
Gejala: tanaman tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil, daun mengecil, dan menggulung ke atas.
Pengendalian: (1) digunakan musuh alami hama, misalnya beberapa jenis tabuhan yang merupakan parasit lalat putih dan beberapa jenis lembing guna memakan telur lalat putih; (2) gulma di sekitar tanaman tomat harus dibersihkan supaya tidak menjadi inang lalat putih; (3) tanaman tomat terserang virus harus segera dicabut dan dibakar; (4) pertanaman tomat dapat diberi mulsa jerami atau mulsa plastik; (5) disemprot dengan Diazinon, Malathion, Azinpos-methyl dan lain-lain.

4.   Kutu daun thrips
Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Ciri: panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan, tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal atau oval.
Gejala: Thrips mengisap cairan pada permukaan daun dimana daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati. 
Pengendalian: (1) tanaman yang kekurangan air lebih banyak diserang thrips. Untuk itu, tanaman tomat harus disiram dengan air yang cukup; (2) gulma di areal tanaman tomat harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat berlindung thrips; (3) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon, Malathion dan Monocrotophos.

5.   Lalat buah
Lalat ini termasuk famili Trypetidae (Tephritidae) dari ordo Diptera. Ciri: mempunyai sayap transparan sepanjang 5-7 mm, panjang badan 6-8 mm. Perut berwarna coklat muda dengan garis melintang berwarna coklat tua, dada berwarna coklat tua dengan bercak kuning atau putih. Belatung muda berwarna putih, tetapi bila dewasa berwarna kekuning-kuningan. Panjang belatung ± 1 cm. Belatung ini terletak di dalam daging buah. Telur lalat berukuran kecil-kecil, panjangnya ± 1,2 mm, kedua ujungnya runcing, dan berwarna putih.
Gejala: buah tomat menjadi busuk karena terserang cendawan atau bakteri. Bila buah dibuka akan kelihatan ada belatung berwarna putih. Belatung dewasa berwarna kekuning-kuningan dan bila disentuh akan melenting sejauh ± 30 cm untuk menyelamatkan diri.
Pengendalian: (1) pada waktu mencangkul, tanah harus dibalik dan dibiarkan beberapa hari sampai beberapa minggu agar terkena sinar matahari sehingga pupa lalat mati; (2) ditangkap dengan menggunakan umpan yang dapat memikat lalat jantan; (3) buah yang terserang segera dipetik dan dibakar; (4) gulma di daerah pertanaman tomat harus selalu dibersihkan.

6.   Nematoda bengkak akar
Ciri: bentuk nematoda bisul akar seperti cacing kecil sepanjang antara 200-1000 m. Untuk mengamati hama ini harus digunakan mikroskop. Pada mulutnya terdapat stylet yang berbentuk seperti jarum runcing, untuk menusuk dan menarik kembali cairan dalam mulut. Ukuran badan nematoda betina sedikit lebih gemuk.
Gejala: akar tanaman membengkak memanjang atau bulat, akibatnya tanaman (akar) akan mengalami kesulitan mengambil air dari tanah sehingga terjadi klorosis, yakni warna daun tidak normal, pertumbuhan terhambat, layu, buah kecil serta sedikit dan cepat menjadi tua. Serangan nematoda ini dapat mengurangi produksi sampai 50% atau lebih.
Pengendalian: (1) tanah dicangkul dan dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (2) tanah digenangi air yang cukup lama supaya nematoda mati; (3) menggunakan bahan kimia Nematisida, misalnya Furadan, Curater, Petrofur, Indofuran, dan Temik; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (4) tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dibakar; (5) gulma di areal tamanan tomat dibersihkan; (6) diberi pupuk organik (pupuk kandang atau kompos).


B. Penyakit karena Cendawan

1.   Penyakit layu fusarium
Infeksi terjadi lewat akar, kemudian menyerang jaringan pembuluh. Jaringan xylem yang terserang warnanya menjadi coklat dan serangan ini dengan cepat menuju ke atas. Aliran air ke daun akan terhambat sehingga daun akan layu dan menguning. Cendawan ini membentuk polipeptida (likomarasmin) yang menggangu permeabilitas membran plasma, sehingga perjalanan air dari bawah ke atas terhambat.
Gejala: pada malam hari sampai pagi masih kelihatan segar, tetapi setelah ada sinar matahari dan terjadi penguapan, tanaman tersebut menjadi layu. Sore hari mungkin masih dapat segar lagi tetapi keesokan harinya mulai layu lagi. Akhirnya, tanaman layu akan mati.
Pengendalian: (1) menanam varietas tomat yang resisten (tahan); (2) diberi mulsa plastik transparan untuk menaikkan suhu tanah agar penyakit fusarium mati; (3) menanam tanaman tomat di tanah yang bebas nematoda; (4) menggunakan alat yang bersih dari penyakit layu; (5) tanah yang telah ditanami tomat yang terserang penyakit layu tidak boleh ditanami tomat dalam waktu lama dan tidak boleh menanam tanaman yang termasuk solanase; (6) tanaman yang layu harus segera dicabut dan dibakar; (7) tanaman tomat disambung dengan cepokak (Solanum torvum), atau terung engkol (Solanum macrocarpon).

2.   Bercak daun septoria
Penyebab: cendawan Septoria lycopersici Speg. yang merusak daun dan menyerang tanaman tomat yang masih muda ataupun tua.
Gejala: terlihat bercak bulat kecil berair pada kedua permukaan daun dibagian bawah. Bercak tersebut berwarna coklat muda, kemudian menjadi kelabu dengan tepi kehitaman. Garis tengah bercak ± 2 mm. Serangan yang hebat menyebabkan daun tomat menggulung, mengering dan rontok.
Pengendalian : (1) gulma dan sisa tanaman tomat yang telah mati dibersihkan dan dibakar, jangan dipendam dalam tanah; (2) dilakukan rotasi tanaman, dengan menanam tanaman lain yang berbeda famili; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) disemprot dengan fungisida misalnya, zineb dan maneb.

3.   Penyakit bercak coklat
Penyebab: Alternaria solani Sor. 
Gejala: daun tomat yang terserang tampak bulat coklat atau bersudut, dengan diameter 2-4 mm, dan berwarna coklat sampai hitam. Bercak itu menjadi jaringan nekrosis yang mempunyai garis-garis lingkaran sepusat. Jaringan nekrosis ini dikelilingi lingkaran yang berwarna kuning (sel klorosis). Bila serangan mengganas, bercak akan membesar dan kemudian bersatu sehingga daun menjadi kuning, layu dan mati. Bunga yang terinfeksi akan gugur. Buah muda atau masak yang terserang penyakit ini menjadi busuk, berwarna hitam, dan cekung, serta meluas ke seluruh buah. Penyakit ini biasanya dimulai dari pangkal buah (ujung tangkai) yang berwarna coklat tua dan cekung, bergaris tengah 5-20 mm dan tertutup massa spora hitam seperti beledu.
Pengendalian: (1) menanam biji yang bebas penyakit atau biji terdesinfeksi; (2) tanaman yang sakit segera dicabut dan dibakar; (3) bekas tanaman tomat, terung, kentang, dan tanaman yang termasuk Solanase tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat, tapi harus dikumpulkan di tempat lain dan dibakar; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) penyiraman harus menggunakan air bersih yang tidak tercemar penyakit; (6) drainase harus diatur dengan baik agar tanaman tidak tergenang air; (7) gulma di areal pertanaman harus selalu dibersihkan; (8) pembibitan dan penanaman jangan terlalu rapat; (9) disemprot dengan carbamat, zineb atau maneb.


4.   Penyakit busuk daun
Penyebab: cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de bary. 
Gejala: daun tomat yang terserang berbercak coklat sampai hitam. Mula-mula pada ujung atau sisi daun, hanya tampak beberapa milimeter, tetapi akhirnya meluas sampai ke seluruh daun dan tangkai daun. Penyakit ini mulai menyerang pangkal buah, yang menimbulkan bercak berair yang berwarna hijau kelabu sampai coklat.
Pengendalian: (1) tanaman yang telah terserang segera dicabut dan dibakar; (2) tanaman yang sakit tidak boleh dipendam di areal pertanaman tomat; (3) menanam varietas tomat yang resisten; (4) melakukan rotasi tanaman; (5) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar matahari; (6) disemprot dengan fungisida, misalnya Dithane M-45, Difolatan, zineb, propineb, atau maneb.

5.   Penyakit busuk buah Rhizoctonia
Penyebab: cendawan Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk. 
Gejala: muncul bercak cekung kecil berwarna coklat. Bercak ini membesar dan timbul lingkaran-lingkaran sepusat. Warna bercak menjadi coklat tua dan bagian tengahnya sering kali retak.
Pengendalian: (1) air pengairan harus bersih dan bebas penyakit; (2) penanaman jangan terlalu dalam; (3) diberi lanjaran supaya buah tomat tidak menyentuh tanah; (4) diberi mulsa plastik transparan; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) melakukan rotasi tanaman; (7) gulma dan sisa-sisa tanaman sakit harus dibersihkan dan dibakar; (8) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif chlorothalonil dengan interval 7-8 hari sekali untuk menanggulangi timbulnya penyakit busuk buah.

6.   Busuk buah antraknosa
Penyebab: cendawan Colletotrichum coccodes (Wallr.) Hughes. Penyakit ini dapat menyerang buah, batang dan akar tanaman tomat. 
Gejala: buah tomat tampak ada bercak kecil berair, bulat dan cekung yang makin membesar, berwarna coklat, kelihatan ada lingkaran-lingkaran sepusat, dan kemudian menjadi hitam. Pada pangkal buah kelihatan ada bercak ungu yang terletak dekat tangkai. Bila serangan terjadi pada akar dan batang, warna jaringan cortex akan menjadi coklat dan daun menjadi layu.
Pengendalian: (1) sisa tanaman sakit tidak boleh dipendam dalam tanah; (2) melakukan rotasi tanaman selama 1-2 tahun; (3) diberi mulsa dan lanjaran agar buah tidak menyentuh tanah; (4) menanam tanaman tomat yang resisten; (5) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif kaptafol.

C. Penyakit karena Bakteri
1.   Penyakit layu
Penyebab: Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F.Sm. 
Gejala: tanaman yang diserang penyakit ini lebih cepat layu. Tanaman yang telah terinfeksi daunnya masih hijau tetapi kemudian tiba-tiba layu, terutama pucuk daun yang masih muda, dan daun bagian bawah menguning. Tanaman yang terinfeksi menjadi kerdil, daun menggulung ke bawah, dan kadang-kadang terbentuk akar adventif sepanjang batang tomat. Tanaman yang terserang biasanya akan roboh dan mati.
Pengendalian: (1) melakukan rotasi tanaman dan tidak boleh menanam jenis-jenis tanaman yang termasuk famili Solanaceae; (2) gulma di areal pertanaman dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang resisten; (4) tanaman disambung dengan batang bawah cepokak; (5) tanaman disemprot dengan antibiotika; (6) tanaman yang sakit dicabut dan dibakar; (7) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu agar cukup terkena sinar matahari.

2.   Kerak bakteri, bercak bakteri
Gejala: adanya bercak berair kecil pada daun dan batang; bercak berair ini akan mengering, cekung dan berwarna coklat keabu-abuan garis tengah 1-5 mm; tanaman tomat yang terserang daun-daunnya mengeriting ke bawah dan mengering; batang yang terluka menyerupai kerak panjang dan berwarna keabu-abuan; daun yang terserang mengalami klorosis dan gugur; pada buah yang terserang mula-mula kelihatan bercak berair, kemudian berubah menjadi bercak bergabus.
Pengendalian: (1) melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang berbeda famili; (2) menanam biji dari tanaman tomat yang sehat; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) tanaman yang sakit harus segera dicabut dan dibakar; (5) tanaman tomat yang mati tidak boleh dipendam dalam tanah; (6) menyiram tanaman dengan air yang bersih dan bebas penyakit.

Mengenal Tanaman Tomat


Tomat (Lycopersicum esculentum ) adalah salah satu komoditas pertanian yang sangat bermanfaat bagi tubuh  karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat  mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat merupakan komoditas multiguna yang berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan. Sebagai sumber mineral, buah tomat dapat bermanfaat untuk pembentukan tulang dan gigi (zat kapur dan fospor), sedangkan zat besi (Fe) yang terkandung di dalam buah tomat dapat berfungsi untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin. Selain itu tomat mengandung zat potassium yang sangat bermanfaat untuk menurunkan gejala tekanan darah tinggi (Cahyono, 2005). Oleh karena itu, permintaan akan komoditas tomat akan terus meningkat seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

A.    Botani Tanaman Tomat
Tanaman tomat  (Lycopersicum esculentum Mill) merupakan tanaman yang secara lengkap diklasifikasikan ke dalam golongan sebagai berikut:
Divisio             : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledoneae
Ordo                : Tubiflorae
Famili              : Solanaceae
Genus              : Lycopersicum
Spesies            : Lycopersicum esculentum Mill (Redaksi Agromedia, 2007).   

Tanaman tomat memiliki akar tunggang, akar cabang, serta akar serabut yang berwarna keputih-putihan dan berbau khas. Perakaran tanaman tidak terlalu dalam, menyebar ke semua arah hingga kedalaman rata-rata 30 - 40 cm, namun dapat mencapai kedalaman hingga 60 - 70 cm. Akar tanaman tomat berfungsi untuk menopang berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara dari dalam tanah. Oleh karena itu tingkat kesuburan tanah di bagian atas sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi buah, serta benih tomat yang dihasilkan.

Batang tanaman tomat bentuknya bulat dan membengkak pada buku-buku. Bagian yang masih muda berambut dan biasanya dan ada yang berkelenjar, mudah patah, dapat naik bersandar pada turus atau merambat pada tali, namun harus dibantu dengan beberapa ikatan. Dibiarkan melata, cukup rimbun menutupi tanah. Bercabang banyak sehingga secara keseluruhan berbentuk perdu.

Daunnya yang berwarna hijau dan berbulu memiliki panjang 20 - 30 cm dan lebar 15 - 20 cm. Daun tomat tumbuh dekat ujung dahan atau cabang sementara tangkai daunnya berbentuk bulat memanjang sekitar 7 - 10 cm dan ketebalan 0,3 - 0,5 cm.

Bunga tanaman tomat termasuk jenis bunga berkelamin dua atau hermaprodit. Bunga tanaman tomat berwarna kuning, terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi penyerbukan silang 

Buah tomat adalah buah buni, selagi masih muda berwarna hijau dan berbulu serta relatif keras, setelah tua berwarna merah muda, merah atau kuning cerah dan mengkilat, serta relatif lunak. Bentuk buah tomat beragam: lonjong, oval, pipih, meruncing, dan bulat. Diameter buah tomat antara 2 - 15 cm, tergantung varietasnya. Jumlah ruang di dalam buah juga bervariasi, ada yang hanya dua seperti pada buah tomat cherry dan tomat roma atau lebih dari dua seperti tomat marmade yang beruang delapan. Pada buah masih terdapat tangkai bunga yang berubah fungsi menjadi sebagai tangkai buah serta kelopak bunga yang beralih fungsi kelopak bunga.

Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, dan berwarna putih, putih kekuningan atau coklat muda. Panjangnya 3 - 5 mm dan lebar 2 - 4 mm. Biji saling melekat, diselimuti daging buah dan tersusun berkelompok dengan dibatasi daging buah. Jumlah biji setiap buahnya bervariasi, tergantung pada varietas dan lingkungan, maksimum 200 biji per buah. Umumnya biji digunakan untuk bahan perbanyakan  tanaman. Biji mulai tumbuh setelah ditanam  5 - 10 hari.

B.      Syarat Tumbuh

Tanaman tomat pada fase vegetatif memerlukan curah hujan yang cukup. Sebaliknya, pada fase generatif memerlukan curah hujan yang sedikit. Curah hujan yang tinggi pada fase pemasakan buah dapat menyebabkan daya tumbuh benih rendah. Curah hujan yang ideal  selama pertumbuhan tanaman tomat berkisar antara 750 - 1.250 mm per tahun. Curah hujan tidak menjadi faktor penghambat dalam penangkaran benih tomat di musim kemarau jika kebutuhan air dapat dicukupi dari air irigasi, namun dalam musim yang basah tidak akan terjamin baik hasilnya. Iklim yang basah akan membentuk tanaman yang rimbun, tetapi bunganya berkurang, dan di daerah pegunungan akan timbul penyakit daun yang dapat membuat fatal pertumbuhannya. Musim kemarau yang terik dengan angin yang kencang akan menghambat pertumbuhan bunga (mengering dan berguguran). Walaupun tomat tahan terhadap kekeringan, namun tidak berarti tomat dapat tumbuh subur dalam keadaan yang kering tanpa pengairan. Oleh karena itu baik di dataran tinggi maupun dataran rendah dalam musim kemarau, tomat memerlukan penyiraman atau pengairan demi kelangsungan hidup dan produksinya,

Suhu yang paling ideal untuk perkecambahan benih tomat adalah 25 - 300C. Sementara itu, suhu ideal untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 24 - 280C. Jika suhu terlalu rendah pertumbuhan tanaman akan terhambat. Demikian juga pertumbuhan dan perkembangan bunga dan buahnya yanng kurang sempurna. Kelembaban relatif yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 80%. Sewaktu musim hujan, kelembaban akan meningkat sehingga resikoterserang bakteri dan cendawan cenderung tinggi. Karena itu, jarak tanamnya  perlu diperlebar dan areal pertanamannya perlu dibebaskan dari segala jenis gulma.

Tanaman tomat membutuhkan penyinaran penuh sepanjang hari untuk produksi yanng menguntungkan, tetapi sinar matahari yang terik tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman tomat. Tanaman yang ada di daerah dengan kondisi demikian akan mudah terserang cendawan busuk daun dan sejenisnya. Angin kering dan udara panas juga kurang baik bagi pertumbuhannya dan sering menyebabkan kerontokan bunga.

Sumber :
Cahyono, Bambang. 2005. Tomat, Budidaya dan Analisis Usaha Tani, Kinisius, Yogyakarta.
Pitojo, S, 2005. Benih Tomat. Kanisius, Yogyakarta
Redaksi Agromedia, 2007. Panduan Lengkap Budi Daya Tomat. Agromedia, Jakarta.
Rismunandar, 2001. Tanaman Tomat. Sinar Baru Algensindo, Bandung.
Wiryanta,W.T.B, 2004. Bertanam Tomat.  Agromedia Pustaka, Jakarta.

Budidaya Tomat


Tomat termasuk sayuran buah yang paling digemari oleh setiap orang karena rasanya enak, segar, dan sedikit asam. Selain itu, tomat setelah tua dan berwarna merah merupkan sumber vit. A, vit C, dan sedikit vit. B. Kandungan vit. A-nya lebih tinggi 2-3 kali dari semangka.

Tomat dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun tinggi. Jenis tomat sayur lebih baik ditanam di dataran rendah. Sementara tomat apel lebih baik ditanam di dataran tinggi.

Namun, ada varietas yang termasuk tipe tomat apel yang cocok ditanam di dataran rendah dan tahan terhadap penyakit layu seperti VC.11 (ratna), AV-33 (intan), berlian, mutiara, dan TW 375. Tanaman tomat sangat peka terhadap tanah yang sedikit kekurangan zat-zat hara terutama unsure nitrogen (zat lemas).

Oleh karena itu, penanaman tomat harus pada tanah yang gembur, sedikit mengandung pasir dan banyak mengandung bahan organik (subur). Tanah liat yang sedikit mengandung pasir dengan derajat keasaman tanah (pH) antara 5-6 sangat disukai tanaman ini.

Tanaman tomat pun tidak tahan terhadap hujan. Oleh karena itu, waktu tanam terbaik adalah 2 bulan sebelum musim hujan hingga akhir musim hujan.

Waktu tanam pun dapat dilakukan pada awal musim hujan, Akan tetapi, tanaman sering mengalami kegagalan karena banyak terjadi serangan penyakit daun dan buahnya banyak yang pecah sehingga mutunya menurun. Di sawah atau tempat yang dapat diairi/digenang, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim kemarau.

a. Cara Tanam
Tomat dikembangkan dengan bijinya. Sebelum ditanam, biji tomat disemai terlebih dulu. Tanah untuk persamaian dicangkul dan diberi pupuk kandang yang telah jadi dan steril.

Untuk melindungi semaian dibuatkan atap yang menghadap ke timur dan iring ke barat setinggi 1 m. Atap ini berguna untuk menjaga kelembapan, mmperoleh suhu yang tetap, dan mengatur banyaknya sinar matahari yang masuk.

Biji tomat ditaburkan berbaris dengan jarak antarbaris 5 cm. Penaburan dilakukan dengan hati-hati dan tipis-tipis di atas tanah persemaian. Untuk lahan seluas 1 ha diperlukan sebanyak 300-400 g biji tomat.

Menurut teori, penanaman 1 ha lahan hanya diperlukan 150 g biji yang berdaya kecambah 75 persen. Biji tomat akan tumbuh setelah 5-7 hari disemaikan, Setelah 2 minggu, bibit dipindahkan ke dalam kantong plastic atau bumbung (pot) daun pisang.

Lahan yang digunakan dicangkul sedalam 40 cm dan dibuat bedeangan dengan lebar 1,40-1,60 m. Di atas bedengan dibuat lubang dengan jarak 50-60 cm. Jarak antarbaris lubang 70-80 cm sehingga tiap bedengan terdiri dari 2 baris lubang.

Tiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi 0,5-1 kg atau 20 ton/ha. Pada lahan tersebut juga dibuatkan saluran pembuangan air (parit) antar bedengan dengan lebar 20 cm.

Parit ini sangat penting untuk drainase dan mencegah serangan penyakit layu. Setelah berumur 1 bulan (berdaun 4 helai) bibit tomat dipindahkan ke lubang-lubang yang telah tersedia di kebun. Tiap lubangditanami 1 batang tanaman yang sehat, kuat, dan subur.

Jika diperlukan, tanaman ditutupi dengan dedaunan atau pelepah pisang. Tutup ini untuk mencagah teriknya sinar matahai atau pukulan air hujan yang mungkin jatuh. Setelah 3-4 hari tutup dibuka.

Tanaman tomat yang telah berumur 1,5 bulan diberi pupuk buatan berupa campuran urea, TSP, dan KCl dengan perbandingan 2:3:1 sebanyak 12 g tiap tanaman. Pupuk ini diletakkan dalam alur yang melingkari batang tanaman, kurang lebih 5 cm dari batang tanaman. ‘

Alur ini selanjutnya ditutup dengan tanah. Pemberian pupuk buatan ini diulangi sekali lagi setelah 2-3 minggu kemudian. Dengan demikian untuk tiap hektar tanaman dibutuhkan 200 kg urea, 300 kg TSP, dan 100 kg KCl. Pada tanah tandus, pupuk urea diberikan sampai 300 kg per ha. Pupuk buatan sebaiknya waktunya diberikan bersamaan dengan pendangiran tanah.

Saat umur 1,5 bulan cabang samping dipangkas hingga tersisa 1-2 cabang utama tiap tanaman. Tunas yang tumbuh pada ketiak daun dan berbungga sedikit (tunas liar) harus dibuang karena tunas tersebut mengurangi hasil buah.

b. Pemeliharaan Tanaman
Cara memelihara tomat adalah dengan membersihkan rumput atau gulma, mengatur ketersediaan air, memasang ajir, dari bamboo serta memberantas hama dan penyakit. Untuk pemberantasan hama dan penyakit sebaiknya terlebih dahulu mengenali jenis hama dan penyakitnya. Jenis hama tomat yalah ulat penggerek buah (Heliothis sp.) daun ulat tanah (Agrotis sp.)

Ulat tanah ini dapat mematahkan tanaman muda, Ulat ini dapat diberantas dengan menyemprotkan Rhocap 10 G 0,1 persen di sekitar tanaman, sedangkan ulat penggerek buah dengan Decis 2,5 EC 0,2 persen. Hama lain yang dapat merusak tanaman tomat adalah cacing.

Cacing yang berbahaya adalah nematode bintil akar (Meliodogyne sp.). Nematoda ini hanya timbul pada tanah yang terlalu asam (pH 4-5). Hama ini menyebabkan akar-akar tomat berbintil, tanaman lemah, dan produksi menurun.

Selain hamaada bahaya lain yang dapat merusak tomat yakni penyakit. Jenis penyebab penyakit berbahaya bagi tanaman tomat adalah cendawan, bakteri, dan virus.

Penyakit yang disebabkan oleh cendawan adalah penyakit damping off, busuk daun, dan layu.Cendawan Rhizoctonia sp. Dan Pythium sp. dapat menimbulkan penyakit damping off. Penyakit ini sering mengancam tanaman di persemaian.

Serangannya dapat daicegah dengan penyemprotan Dithane M-45 0,2 persen sebelum penyakit muncul. Cendawan Pythopthora infestans dapat menyebabkan penyakit busuk daun dan penyakit cacar. Daun dan buah yang terserang penyakit ini bernoda hitam seperti cacar, tidak tertur, dan akhirnya menjadi kering atau busuk.

Penyakit ini dapat diberantas dengan Benlate 0,1-0,3 persen, Antracol atau Dithane M-45 0,2 persen. Jika pemberantasan terlambat, penyakit ini dapat menggagalkan panen.

Adapun jenis cendawan Fusarim oxysporum dapat menyebabkan penyakait layu atau lanas. Serangan penyakit ini terjadi pada kar sehingga sulit diberantas.. Selain itu, penyakit dapat menyebar melalui tanah, air, dan bibit. Penyakit layu ini pun dapat disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum.

Pengobatannya sampai saat ini belum ditemukan. Penyakit ini menyebar melalui tanah, air, dan biji. Jenis penyakit lainnya yang meyerang tomat adalah virus. Jenis virusnya berupa virus keriting dan Tobaco Mosaik Virus (TMV) atau blorok yang sampai kini belum dapat diberantas.

Penyakit ini disebarkan oleh serangga vector berupa kutu daun Myzus persiae.
Jenis penyakit yang disebabkan di atas bersifat cepat menjalar/menyebar. Timbulnya penyakit damping off dan layu terjadi akibat penggunaan pupuk kandang yang belum jadi.

Penyebaran penyakit dapat dicegah dengan cara tanaman yang terserang penyakit segera dicabut dan dibakar. Pencegahan lainnya adalah mengadakan rotasi tanaman, dijaga kebersihan tanaman, dan digunakan varietas tahan penyakit layu misalnya varietas ratna, dan intan.

Selain itu dapat pula digunakan bibit tomat sambungan (enten). Bibit tomat tersebut disambungdi atas batang tekokak atau terung gelatik untuk mencegah serangan penyakit melalui akar (seperti penyakit layu cendawan dan layu bakteri). Alasan penyambungan ini karena tekoka dan terung gelatik tahan terhadap penyakit tersebut.

c. Pemanenan
Buah pertama sudah bisa dipungut setelah tanaman berumur 2 bulan tanam. Bila buah dipungut terlambat, terlau masak atau tua maka banyak buah yang jatuh dan mudah rusak selama dalam pengangkutan.
Tanaman yan unggul dan sehat dapat menghasilkan 10-25 ton buah tomat/ha. Produksi tomat di Indonesia sekitar 25.000 ton dengan luas berkisar 4.000 ha.

Hasil produksi tomat telah diperdangkan secara luas. Tomat dalam negeri (Sumatera Utara dan Jawa Barat) telah masuk pasar luar negeri seperti Malaysia dan Singapura. Tomat tipe apel dan gondola (roma) adalah jenis tomat yang disenangi konsumen luar negeri

Manfaat Kecipir

Written By Muhammad Yusuf on Wednesday, July 4, 2012 | 2:39 AM


Dari berbagai penelitian, manfaat kecipir sungguh sangat banyak dan bahkan mengungguli jenis-jenis tanaman lainnya. Tanaman kecipir ( Psophocarpus tetragonolobus ) merupakan tanaman tropis yang jumlahnya sangat melimpah di negara agraris, contohnya di Indonesia. Kecipir berasal dari Indonesia bagian timur. Di Sumatera dikenal sebagai kacang botol atau kacang belingbing / kacang embing, jaat ( Sunda ), kelongkang ( Bali ), biraro ( Ternate ), cubilet ( Banda ) dalam bahasa inggris disebut Winged bean. Tanaman kecipir mudah untuk dibudidayakan ,. Umumnya masyarakat menanamnya hanya untuk sekedar penutup pagar. Hal ini dimungkinkan karena pengetahuan masyarakat tentang manfaat dari kecipir masih kurang.Dibanding dengan hasil produksi dari kacang tanah , kecipir cukup menjanjikan. Produksi kecipir mencapai 2.380 kg /ha, sedangkan kacang tanah dan kedelai masing รข€“masing hanya 1.000 kg /ha dan 900 kg/ha ( Rismunandar,1986 ).

Manfaat Kecipir Diantaranya:
a. Pelangsing tubuh dan gairah seksual.
Oleh masyarakat Arab, Pakistan dan China , mereka mengambil manfaat kecipir dari biji-bijiannya. Biji kecipir dapat dijadikan obat tradisional yaitu untuk kesehatan kulit, pelangsing tubuh dan peningkat gairah seksual.

b.Obat sariawan
Manfaat kecipir lainnya ada pada umbinya. Di Indonesia umbi kecipir dapat dijadikan sebagi obat sariawan dengan cara ditambah gula batu.

c.Obat kebugaran tubuh / pemulih energi
Daun kecipir yang berwarna gelap dapat dijadikan sebagai obat. Manfaat kecipir dari sisi daunnya bisa digunakan untuk obat pemulih energi / kebugaran tubuh.

d. Turunkan LDL , Naikkan HDL
Manfaat kecipir juga terdapat pada lemaknya. Selain protein, lemak biji kecipir relatif tinggi sekitar 15-20 %. Sekitar 71 % nya merupakan asam lemak tidak jenuh, terutama asam linoleat, Asam linoleat merupakan asam lemak tidak jenuh omega 6. Asam lemak omega 6 ( dari biji-bijian ) dan omega 3 ( ikan laut ) dibutuhkan untuk kesehatan tubuh yang prima. Lemak dalam kecipir terdiri atas asam lemak tak jenuh yang bermanfaat menurunkan kadar total kolesterol. Sementara lemak yang bisa meningkatkan kadar kolesterol adalah lemak jenuh yang banyak terdapat pada daging. Lemak

tak jenuh mampu menurunkan kolesterol LDL dan meningkatkan HDL. LDL disebut kolesterol jahat karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah, LDL merupakan pembawa kolesterol terbanyak, yaitu kurang lebih 60 persen dari total plasma , HDL disebut kolesterol baik, HDL dapat membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati.

Sumber:
Banyuke.com
Guna kecipir. Selera, X (4), April 1991: 44-46

Info Pendukung

Info Pendukung Lainnya »

Info Tanaman Obat

Info Tanaman Obat Lainnya »