Home » » TERPENTIN DAN GONDORUKEM DARI PINUS

TERPENTIN DAN GONDORUKEM DARI PINUS

Written By Muhammad Yusuf on Monday, June 13, 2011 | 5:08 AM

Kalau kita jalan-jalan ke Brastagi, Puncak, Lembang, Tawangmangu atau Batu, akan selalu bertemu dengan jajaran pohon pinus. Masyarakat awam akan menyebutnya sebagai pohon cemara. Padahal Pinus hanyalah salah satu genus cemara. Genus lainnya adalah Juniperus dan Thuja. Masing-masing genus masih terdiri dari banyak spesies. Pinus sendiri terdiri dari 115 spesies. Juniperus ada 67 spesies, dan Thuja hanya terdiri dari lima spesies. Juniperus dan Thuja masih sama-sama famili Cupressaceae (cypress family). Sementara Pinus masuk famili Pinaceae.
Genus Pinus sendiri, masih terbagi lagi menjadi tiga sub genus, sesuai dengan bentuk buah, biji dan daunnya. Pertama Subgenus Strobus, kedua Subgenus Ducampopinus, dan ketiga Subgenus Pinus. Pinus yang banyak kita jumpai di kawasan wisata yang sejuk, adalah Pinus Sumatera, Sumatran Pine (Pinus merkusii). Cemara ini disebut Pinus Sumatera, karena habitat aslinya memang pulau Sumatera. Meskipun sebarannya meliputi kawasan Asia Tenggara. Pinus bisa hidup mulai dari ketinggian 0 m sampai dengan 2.000 m dpl. Namun pertumbuhan optimum akan terjadi pada ketinggian 400 m sampai dengan 1.500 m dpl.
Itulah sebabnya pinus banyak kita jumpai di kawasan pegunungan yang sejuk, terutama di kawasan wisata. Sebenarnya pinus tidak terlalu cocok untuk dibudidayakan di kawasan pegunungan, dengan tingkat kemiringan lahan lebih dari 45º. Sebab kemampuannya untuk menahan curahan air hujan tidak terlalu baik. Selain itu, pinus juga mengeluarkan zat alelopati, yang mengakibatkan tanaman lain tidak bisa tumbuh di bawah tegakan pinus. Selain itu, serasah pinus juga tidak mudah hancur sebagaimana tumbuhan lain yang berdaun lebar. Hingga tanaman pinus memang tidak cocok dibudidayakan di lahan-lahan pegunungan, terutama sebagai penahan erosi.
# # #
Namun pinus punya kelebihan lain, yakni pertumbuhannya sangat cepat. Kayu pinus juga merupakan bahan meubel, dan bangunan kualitas baik. Sebab batang pinus tumbuh lurus. Kayunya ringan tetapi kuat, dengan tekstur urat yang tampak jelas. Warna kayunya cokelat terang, cenderung ke arah putih. Selain untuk bahan bangunan dan meubel, kayu pinus juga merupakan bahan playwood dan pulp (bubur kertas). Meskipun pertumbuhan pinus tropis cukup pesat, namun masih kalah pesat dibanding dengan pinus sub tropis. Kalau pinus tropis seperti Pinus merkusii akan menghasilkan pulp serat pendek untuk kertas budaya (kertas putih), maka pinus sub tropis menghasilkan pulp serat panjang untuk kertas koran.
Scandinavia dan Kanada adalah penghasil pulp serat panjang dari pinus sub tropis. Pulp ini dihasilkan dari batang pinus yang ditebang, dibuang kulitnya, kemudian digiling. Limbah dari industri pulp ini adalah terpentin. Karena merupakan limbah industri, maka harganya lebih murah dibanding dengan terpentin hasil sadapan batang pinus. Rumus kimia terpentin adalah C10H16. Terpentin tergolong sebagai minyak asiri (minyak terbang). Minyak terpentin merupakan bahan baku industri cat, pelitur, farmasi, parfum dan esense. Selain berasal dari limbah industri pulp, terpentin juga bisa dihasilkan dari menyadap batang pinus. Hasil sadapan ini berupa getah yang lengket berwarna cokelat kekuningan.
Pinus yang biasa dibudidayakan untuk disadap getahnya antara lain: pinus laut (Pinus pinaster); pinus Aleppo (Pinus halepensis); pinus Masson’s (Pinus massoniana); pinus sumatera (Pinus merkusii); pinus daun panjang (Pinus palustris); pinus Loblolly (Pinus taeda); dan pinus Ponderosa (Pinus ponderosa). Pinus-pinus ini dibudidayakan khusus untuk disadap getahnya, baru kemudian setelah tua ditebang sebagai penghasil kayu. Getah pinus ini demikian banyaknya, hingga sekitar 40 juta tahun yang lalu, banyak menjebak serangga, yang kemudian menjadi fosil dalam batu amber. Karena batu amber dengan fosil serangga di dalamnya, sebenarnya adalah getah pinus, maka bobotnya relatif ringan dibanding dengan batuan alam lainnya.
Perbedaan bobot inilah yang bisa berguna bagi kalangan awam, untuk mendeteksi asli tidaknya batu amber. Kalau bobotnya cukup berat, berarti amber palsu, yang terbuat dari akrilik. Di Indonesia, Pinus Merkusii dibudidayakan oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI), terutama untuk bahan pulp serat pendek. Di Jawa budidaya Pinus merkusii merupakan proyek Perum Perhutani, untuk disadap getahnya. Benih pinus merupakan produksi Perum Perhutani sendiri, dengan cara menyemai biji yang berasal dari buah hasil panen dari hutan sendiri. Penanaman pinus sekarang ini, kebanyakan merupakan replanting, setelah pohon pinus tua hasil tanaman tahun 1970an ditebang habis.
# # #
Penyadapan getah pinus, dilakukan ketika batang tanaman sudah berdiameter paling sedikit 20 cm. Sebab beda dengan penyadapan karet yang dilakukan dengan hanya melukai (menoreh) kulit kayu, maka pada penyadapan pinus dilakukan sampai ke bagian kayu kerasnya. Sebab getah justru akan keluar dari bagian kayu yang dilukai. Alat sadap pinus berupa kapak kecil berbentuk mirip cangkul. Penorehan kayu keras tidak boleh sampai terlalu dalam, hingga batang akan rusak dan pohon roboh. Getah yang meleleh pada luka itu ditamping dengan tempurung kelapa atau mangkuk, seperti halnya pada penyadapan karet. Sambil mengambil getah yang tertampung, dilakukan penorehan baru hingga luka sadapan itu akan makin meninggi.
Lebar torehan sadapan hanya sekitar 5 sd. 10 cm, dengan kedalaman 4 sd. 7 cm, namun akan terus memanjang sampai sekitar 1 m. Setelah itu dilakukan penorehan baru di samping torehan lama. Demikian seterusnya sampai pangkal batang setinggi 1,5 m sd. 2 m itu penuh dengan torehan. Ketika itulah penyadapan dihentikan, ambil menunggu penebangan dan replanting. Tanaman pinus sudah mulai bisa disadap antara umur 7 sd. 10 tahun setelah tanam, dan penyadapan akan terus berlangsung sepanjang 20 sd. 25 tahun. Setelah itu kayu bisa dipanen. Seluruh bagian kayu pinus termanfaatkan. Batang utamanya untuk bahan bangunan dan meubel, cabang dan rantingnya untuk bahan sumpit. Dulu, cabang dan rantingnya lebih banyak terserap untuk batang korek api.
Replanting pinus, selalu dikerjakan oleh Perum Perhutani bekerjasama dengan masyarakat setempat. Tahun pertama setelah batang pinus tua ditebang, petani boleh menggarap lahan secara gratis, dengan hasil 100% milik petani. Kewajiban petani hanyalah membuat lubang tanam. Tahun berikutnya petani sudah mulai menanam benih pinus berupa tanaman dalam polybag setinggi 1 m. Mulai tahun kedua ini, sudah ada pola bagi hasil untuk petani penggarap dengan Perum Perhutani. Pada tahun kelima ke atas, lahan sudah sulit untuk ditumpangsari, karena tajuk pinus sudah mulai rapat. Pada tahun ke lima inilah mulai dilakukan penjarangan tanaman. Pnjarangan akan terus dilakukan setiap tahun sampai dengan tahun pertama penyadapan.
Getah yang terkumpul, akan ditampung dalam bak, kemudian diangkut ke pabrik penyulingan (destilasi). Di pabrik ini, getah pinus dipanaskan, uapnya ditampung dan didinginkan, hingga dihasilkan bahan cair berupa minyak terpentin, dan bahan padat berupa gondorukem (resin). Limbah penyulingan ini disebut gendot. dan masih bisa dijual untuk bahan campuran kemenyan dan malam batik. Terpentin maupun gondorukemnya, sebagian diekspor, sebagian diserap oleh pasar dalam negeri. Seluruh kegiatan mulai dari penyemaian, penanaman, penyadapan, penyulingan getah, pemasaran terpentin dan gondorukem, kemudian panen kayu, merupakan sebuah proses agroindustri yang tidak bisa saling dipisahkan.
# # #
Pinus dengan terpentin, gondorukem dan kayu, merupakan produk andalan perhutani kedua setelah jati (Tectona grandis). Selain itu, perhutani labih banyak menanami lahan mereka dengan hutan campuran dengan tanaman utama mahoni, sana keling, kepuh, meranti, balsa, waru, dan lain-lain. Pola agroindustri terpentik dan gondorukem Perhutani ini sangat khas, karena terutama dilakukan di Jawa. Pola ini beda dengan pola produksi pulp berbahan kayu pinus yang banyak dilakukan oleh pengusaha HTI. Para pengusaha HTI menanam pinus dengan jarak sangat rapat, tanpa pola tumpangsari. Pada tahun kelima mulai dilakukan pemotongan penjarangan. Penjarangan ini berlangsung terus sampai pada tahun ke sepuluh tanaman akan ditebang habis.
Hingga, pola HTI memang hanya menghasilkan pulp. Hasil terpentin tanpa gondorukem, diperoleh dari destilasi limbah pulp. Pola penanaman demikian sebenarnya sangat merusak lahan, karena berbagai sebab. Pertama, pinus adalah tanaman yang rakus unsur hara, sama halnya dengan singkong dan nilam. Pada pola penanaman model Perum Perhutani di Jawa, tanah sempat dirotasi dengan penanaman tanaman semusim oleh petani penggarap. Selain itu, tanaman pinus akan dipelihara terus sampai umur di atas 30 tahun, baru dilakukan replanting. Meskipun, Perum Perhutani sendiri juga banyak melakukan pelanggaran intern. Seharusnya, pinus hanya optimum dibudidayakan pada ketinggian antara 400 sd. 1.500 m. dpl. Dalam praktek, lahan dengan ktinggian di atas 1.600 m. pun masih ditanami pinus.
Pelanggaran berikutnya, lahan dengan tingkat kecuraman di atas 45º seharusnya tidak ditanami pinus. Namun dalam praktek, lahan dengan tingkat kemiringan 60ºpun, masih dimanfaatkan untuk pinus. Pelanggaran intern ini terjadi karena kekurangtahuan aparat di lapangan. Sebab lahan dengan ketinggian antara 400 sd. 1.500 m. dpl. di Jawa, umumnya memang berupa lereng-lereng dengan tingkat kecuraman tinggi. Lahan-lahan pegunungan di Jawa inilah yang sesuai dengan perundang-undangan di Indonesia, dikelola oleh Perum Perhutani, dan sebagian dimanfaatkan untuk agroindustri terpentin, gondorukem dan kayu pinus kualitas tinggi.
Share this article :

Post a Comment