Home » » POTENSI MINYAK ASIRI YANG TERSIA-SIAKAN

POTENSI MINYAK ASIRI YANG TERSIA-SIAKAN

Written By Muhammad Yusuf on Monday, June 13, 2011 | 5:01 AM

Malingping di Kab. Lebak, Provinsi Banten merupakan kota kecamatan yang sangat terpencil dan tidak tergolong penting. Tetapi di sana ada 500 hektar kebun ylang-ylang milik Perum Perhutani yang sebagian sudah berproduksi dan hasilnya diolah menjadi minyak asiri. Tetapi apa itu ylang-ylang? Inilah kenanga Filipina (Cananga odorata forma genuina) yang masih sekerabat dengan kenanga Indonesia (Cananga odorata forma macrophylla). Dua forma kenanga ini menghasilkan bunga yang bisa disuling (didestilasi) menjadi minyak asiri (atsiri) atau essential oil. Ylang-ylang menghasilkan ylang-ylang oil sedangkan kenanga menghasilkan cananga oil. Ylang-ylang lebih unggul dari kenanga karena tingkat kewangiannya yang tinggi. Ditandai dengan bilangan ester yang mencapai di atas 100. Kenanga kita bilangan esternya di bawah 50. Saat ini harga ylang-ylang oil sekitar Rp 500.000,- per kg. Harga cananga oil hanya Rp 230.000,- per kg.
Produsen ylang-ylang oil dunia selama ini hanyalah Filipina yang cenderung terus merosot. Sekarang Reunion merupakan produsen ylang-ylang oil terbesar disusul Madagaskar dan Komoro. Jadi kalau Indonesia yang selama ini dikenal sebagai produsen cananga oil tiba-tiba juga menghasilkan ylang-ylang oil, itu merupakan sesuatu yang sangat penting. Selain ylang-ylang di Malingping, akar wangi di Kec. Samarang, Kab. Garut juga merupakan komoditas penting dunia yang sekarang-sekarang ini hanya tersaingi oleh Haiti. Namun minyak asiri  terpenting yang dihasilkan Indonesia adalah nilam dan minyak daun cengkih. Indonesia adalah penghasil minyak nilam terbesar dunia dengan sentranya di Aceh, Sumatera Utara dan Bengkulu. Harga minyak nilam sekarang ini Rp 200.000,- per kg. Sementara produsen minyak daun cengkeh  (clove leaf oil) merata di seluruh Indonesia. Harga clove leave oil antara Rp 30.000,- sampai Rp 40.000,- per kg.
Minyak asiri sebenarnya merupakan komoditas penting dunia yang penggunaannya sangat luas tetapi volumenya kecil. Pengguna minyak asiri adalah industri parfum, kosmetik, farmasi, makanan, minuman, pestisida dan lain-lain. Pengguna turunan minyak asiri (yang telah dikurangi atau ditambah rantai atomnya) jauh lebih luas lagi. Turunan clove leaf oil misalnya, juga digunakan sabagai salah satu bahan komponen bom dan bahan bakar pesawat ulang-alik. Di dunia ini ada dua ratusan tanaman penghasil minyak asiri. Indonesia memiliki sekitar 50 tanaman. Tetapi yang sudah diusahakan secara komersial baru belasan. Antara lain kenanga, nilam, daun cengkih, sereh wangi, sereh dapur, akar wangi, pala, lada hitam, jahe emprit, kayu putih, cendana, gaharu, kayu lawang, kayu manis, masoi. Yang kita punya tetapi masih belum digarap antara lain kemukus, adas, mint, jeringau, kapulaga.
Beberapa andalan minyak asiri kita sekarang justru mengalami keterpurukan yang luarbiasa. Cendana kita dari NTT nyaris punah. Padahal cendana sudah dikenal sebagai komoditas ekspor sejak berabad-abad Sebelum Masehi. Demikian juga halnya dengan kenanga. Dalam literatur berbahasa Belanda, disebutkan bahwa sentra penghasil cananga oil adalah Banten, Majalengka dan Kuningan. Tetapi di tiga lokasi tersebut tanaman kenanga juga sudah nyaris punah. Sekarang tinggal di Blitar yang setiap kali panen, bunganya ditampung oleh koperasi kemudian dibagi ke ketel-ketel yang masih beroperasi untuk pemerataan. Hal ini dilakukan karena penebangan kayu kenanga tidak pernah diimbangi dengan penanaman baru. Di Boyolali masih ada satu ketel yang beroperasi, tetapi dalam setahun lebih banyak menganggurnya. Boyolali yang berdekatan dengan Solo dan Yogya merupakan pemasok bunga kenanga untuk keperluan ritual adat Jawa. Harga kenanga untuk keperluan ini rata-rata Rp 15.000,- per kg dan bisa mencapai Rp 50.000,- di hari-hari raya Jawa. Sementara harga kenanga untuk disuling hanya Rp 2.500,-
Tahun 70an Indonesia masih dikenal sebagai penghasil minyak sereh wangi dan akar wangi terbesar di dunia. Sekarang areal tanaman sereh wangi tinggal ada di Sagaranten, Kab. Sukabumi dan Gunung Halu, Kab. Bandung. Akar wangi hanya ada di Kab Garut. Susutnya areal tanaman sereh wangi dan akar wangi karena di tahun 80an pemerintah pernah melarang penanaman dua komoditas ini dengan alasan bisa menyebabkan erosi dan pengurasan unsur hara tanah. Waktu itu, larangan yang paling tidak masuk akal pun pasti akan dipatuhi oleh masyarakat. Untunglah para petani Garut berani membangkang dan tetap setia pada akar wangi. Bahkan akhirnya mereka mampu mengembangkan penanaman akar wangi secara tumpangsari dengan sayuran. Ada dua keuntungan yang bisa mereka peroleh dari sistem tumpangsari ini. Pertama mereka tidak perlu menunggu sampai 1,5 tahun untuk mendapatkan penghasilan dari panen akar wangi. Sebab rata-rata sayuran sudah bisa dipanen pada umur 3 sampai 4 bulan. Kemudian sisa pupuk serta limbah sayuran bisa mengembalikan tingkat kesuburan tanah yang dikuras oleh akar wangi.
Ketakutan pemerintah terhadap sereh wangi dan akar wangi sebenarnya tidak beralasan. Sebab yang bisa menyebabkan erosi bukan tanaman melainkan pembukaan lahan. Kalau lahan dibiarkan terbuka selama musim hujan, maka erosi akan terjadi. Tetapi biasanya di musim pengujan, lahan justru tertutup oleh tanaman. Pengurasan unsur hara juga tidak akan terjadi kalau petani diberitahu cara menghitung volume unsur hara yang diambil tanaman dan selanjutnya diganti unsur hara baru. Selain itu tanah juga memerlukan bahan organik untuk mengembalikan tingkat kesuburannya. Paling sedikit petani harus mengembalikan bahan organik ke lahan  sebanyak separo dari total berat tanaman yang tumbuh di lahan tersebut. Kalau akar wangi plus daun yang dihasilkan lahan itu mencapai 10 ton per ha, maka petani harus memberi pupuk kandang atau kompos minimal sebanyak 5 ton.
Tahun 1998, Indonesia pernah diancam oleh  pengguna minyak nilam dunia. Waktu itu akibat kemarau panjang di tahun 1997, harga minyak nilam mencapai lebih dari Rp 1.000.000,- per kg. Beberapa pengguna nilam segera merancang produk-produk baru mereka tanpa menggunakan komponen  yang berasal dari nilam. Mereka juga merencanakan untuk mensintetis nilam. Meskipun penggunaan nilam untuk bahan pengikat tergolong sangat luas, upaya untuk mensintetisnya sampai dengan tahun itu masih belum terpikirkan. Sebab rantai atom dalam molekul minyak nilam demikian panjang dan rumitnya hingga biaya untuk mensintetis masih lebih mahal dibanding dengan nilam alam. Tetapi kalau harga nilam terus melambung, maka nilam sintetis menjadi alternatif yang pasti segera terlaksanakan. Untunglah tak berapa lama kemudian harga nilam kembali normal ke tingkat Rp 200.000,- sampai Rp 300.000,- per kg.
Selama ini para produsen minyak asiri Indonesia hanya mengandalkan satu komoditas untuk mamasok bahan baku ke ketel-ketel mereka. Kebun ylang-ylang milik Perhutani di Malingping merupakan salah satu contoh. Seandainya 500 hektar areal ylang-ylang itu nantinya sudah berproduksi optimal pun, ketel mereka tetap akan menganggur di musim kemarau. Sementara di musim penghujan bunga yang dipanen tidak akan tertampung oleh ketel yang ada. Hingga idealnya sejak dini seorang penyuling harus merancang penanaman produk-produk yang bisa disuling sesuai dengan agroklimatnya. Misalnya ylang-ylang dan kenanga harus didukung oleh daun cengkeh, sereh wangi, sereh dapur, minyak kayu putih, jahe emprit, kencur, lempuyang, pala muda, kemangi/selasih dan lain-lain. Sementara lokasi penyulingan di dataran tinggi bisa mengandakan nilam, akar wangi, kayu manis, mint, adas dan kapulaga (Eletaria). Dengan cara itulah ketel bisa beroperasi sepanjang tahun.
Kab. Lebak selama ini dikenal sebagai kawasan yang miskin dan terbelakang. Tetapi kalau kabupaten ini mau menggarap minyak asiri dengan lebih serius, tingkat kemakmuran masyarakatnya bisa sama dengan kabupaten-kabupaten di Sulut. Sebab dari sampah daun cengkeh kering pun seseorang bisa hidup. Di kawasan sekitar Pelabuhan Ratu saja, ada lebih dari 5 ketel penyuling daun cengkeh dengan kapasitas masing-masing satu ton. Modal investasi ketel sekitar Rp 50.000.000,- Penyusutan selama 5 tahun atau per bulan Rp 850.000,- atau dibulatkan Rp 1.000.000,- Dengan kapasitas suling satu ton per hari dalam sebulan ketel akan mampu menyuling  sampai 30 ton. Biaya pembelian bahan per ton Rp 350.000,- Ongkos suling Rp 100.000,- Dengan rendemen 1,5 % dari tiap ton bahan akan dihasilkan minyak sebanyak 15 kg. Dengan harga Rp 40.000,- per kg maka pendapatan penyuling per ton bahan (per hari) Rp 600.000,- Berarti pendapatan per bulan penyuling Rp 18.000.000,- dipotong penyusutan Rp 1.000.000,- dan biaya penyulingan Rp 3.000.000,- masih ada Rp 15.000.000,-
Komoditas yang paling mengejutkan sebagai bahan minyak asiri adalah jeringau (jaringau/dlingo - Acorus calamus L). Tanaman rawa ini berasal dari daratan Asia. Di Indonesia telah tersebar merata dan dianggap sebagai tumbuhan asli. Penggunaannya untuk bahan jamu. Di Jawa Tengah rimpang jeringau basah biasa dijual seharga Rp 750,- per kg. Di Jawa Barat harganya agak lebih murah, sekitar Rp 500,- Selain untuk bahan jamu, jeringau juga sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati gangguan perut. Biasanya dicampur dengan bengle (Zingiber purpureum Roxb.). Jeringau juga sering ditanam di pojokan sawah sebagai tolak bala. Masyarakat biasa menanam jeringau di comberan di sekitar rumah. Banyak orang yang tidak tahu bahwa tanaman inilah penghasil Calamus Oil,  salah satu minyak asiri penting di dunia. Harga Calamus Oil di pasar dunia saat ini sekitar US $ 300. per kg. Dengan kurs Rp 8.000,- per US $, maka harga minyak jeringau sekitar Rp 2.400.000,- per kg.

Penggunaan Calamus Oil cukup luas. Terutama untuk industri parfum dan farmasi. Indonesia juga mengimpor Calamus Oil. Sesuatu yang sangat ironis sebab tumbuhan ini relatif mudah dibudidayakan seperti padi di sawah. Umur panennya antara 1 sampai 2 tahun. Hasil rimpang sekitar 10 ton kering atau 20 ton basah. Nilai rimpang kering berikut akar untuk disuling ini sekitar Rp 2.000,- Jadi sebenarnya petani lebih untung menanam jeringau daripada menanam padi. Selama ini penghasil Calamus Oil dunia adalah Nepal, India dan Rusia. Literatur mengenai jeringau di Indonesia juga hampir tidak ada. Buku mengenai jeringau pernah ditulis oleh ABD Majoindo pada tahun 1972 dan diterbitkan oleh Bhratara. Balittro  belum pernah melakukan penelitian terhadap tumbuhan potensial ini. Banyak orang yang menggunakan kosmetik atau obat berbahan baku Calamus Oil. Tetapi mereka pasti tidak pernah menyadari bahwa Calamus Oil itu berasal dari jeringau.
Share this article :

Post a Comment