Home » » Mengembalikan Jerami Ke Dalam Sawah

Mengembalikan Jerami Ke Dalam Sawah

Written By Muhammad Yusuf on Thursday, June 23, 2011 | 5:22 PM

Era revolusi hijau menyebabkan penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus bahkan dosisnya sudah melebihi ambang batas ekonomi.  Petani terpacu untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya tanpa mempedulikan akibatnya pada lahan pertanian miliknya.  Tanpa disadari unsur-unsur hara di dalam tanah terus diambil oleh tanaman tanpa ada upaya untuk menggantinya kembali.  Unsur-unsur yang terambil dari dalam tanah dan tidak tergantikan itu adalah unsur-unsur mikro, yang jarang terperhatikan oleh petani, padahal meskipun mikro (kecil) namun manfaatnya tidak bisa dikesampingkan.  Petani hanya memenuhi unsur-unsur makro berupa N, P dan K yang tersedia di pupuk anorganik.
Seperti yang sering diucapkan Profesor Baehaki, seorang peneliti senior dari BB Padi yang juga sebagai Pemandu teknologi prima tani Kab. Subang bahwa tanah kita sudah sakit karena kita lupa memberi makan tanah kita. sekarang setalah sakit maka kita harus menyembuhkannya. Salah satu cara untuk menyembuhkan tanah yang sakit yaitu dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah.  Begitulah yang selalu beliau katakan kepada para petani di Desa Sindanglaya untuk mengingatkan betapa pentingnya jerami.
Jerami merupakan sumber kalium yang sangat murah dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk penanaman padi pada musim berikutnya. Pengembalian jerami ke dalam tanah adalah salah satu cara untuk mengembalikan unsur-unsur mikro di dalam tanah.  Pupuk organik mengandung unsur-unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang sedikit namun lengkap. Pengembalian jerami ke dalam tanah akan lebih baik setelah dilakukan proses fermentasi atau pengomposan pada jerami padi tersebut, agar ketika dibenamkan ke dalam tanah, tanah langsung dapat menyerapnya, meskipun pupuk dari jerami termasuk pupuk yang lambat penyerapannya (slow released). 
Selama ini banyak petani yang lupa untuk mengembalikan jerami ke dalam tanah, apalagi bila musim panen di musim kemarau, petani lebih mencari jalan singkat untuk menyingkirkan jerami dengan cara dibakar.  Atau karena faktor lain seperti banyak jerami yang diangkut oleh peternak sapi dari daerah lain yang mengalami kelangkaan pakan karena musim kemarau atau diambil oleh petani jamur dari daerah lain untuk dijadikan media tanam jamur seperti yang terjadi di Desa Sindanglaya.
Untuk mengingatkan petani akan pentingnya pengembalian jerami ke dalam tanah, maka diadakan pelatihan praktek fermentasi jerami oleh tim prima tani Kab. Subang bekerja sama dengan PPL setempat dan para petani.  Sumber mikroba pengompos (dekomposer) yang digunakan adalah super farm yang banyak tersedia di pasaran di sekitar Subang, agar petani mudah untuk mendapatkannya.
Cara pembuatan kompos jerami adalah sebagi berikut:
  1. Jerami ditumpuk dengan ketinggian mencapai 15-20 cm, tumpukan dapat diulang sampai mencapai ketinggian 1 meter.
  2. Pada setiap lapisan jerami dicipratkan larutan dekomposer.
  3. Kondisi optimum jerami yang akan dikomposkan berada pada kadar air 50-65%
  4. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan plastik berwarna gelap untuk mempertahankan kelembaban dan untuk menghindari tumpukan terguyur hujan atau terkena panas matahari yang berlebihan
  5. Dilakukan pembalikan seminggu sekali.
  6. Kompos akan matang pada umur 6-7 minggu. Kompos yang matang berwarna kecoklatan dan tumpukan jerami terlihat mengempis hampir setengahnya
Kompos dibongkar dan diangin-anginkan untuk menstabilkan kondisi kompos.
Era revolusi hijau menyebabkan penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus bahkan dosisnya sudah melebihi ambang batas ekonomi.  Petani terpacu untuk terus meningkatkan hasil pertaniannya tanpa mempedulikan akibatnya pada lahan pertanian miliknya.  Tanpa disadari unsur-unsur hara di dalam tanah terus diambil oleh tanaman tanpa ada upaya untuk menggantinya kembali.  Unsur-unsur yang terambil dari dalam tanah dan tidak tergantikan itu adalah unsur-unsur mikro, yang jarang terperhatikan oleh petani, padahal meskipun mikro (kecil) namun manfaatnya tidak bisa dikesampingkan.  Petani hanya memenuhi unsur-unsur makro berupa N, P dan K yang tersedia di pupuk anorganik.
Seperti yang sering diucapkan Profesor Baehaki, seorang peneliti senior dari BB Padi yang juga sebagai Pemandu teknologi prima tani Kab. Subang bahwa tanah kita sudah sakit karena kita lupa memberi makan tanah kita. sekarang setalah sakit maka kita harus menyembuhkannya. Salah satu cara untuk menyembuhkan tanah yang sakit yaitu dengan mengembalikan jerami ke dalam tanah.  Begitulah yang selalu beliau katakan kepada para petani di Desa Sindanglaya untuk mengingatkan betapa pentingnya jerami.
Jerami merupakan sumber kalium yang sangat murah dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk penanaman padi pada musim berikutnya. Pengembalian jerami ke dalam tanah adalah salah satu cara untuk mengembalikan unsur-unsur mikro di dalam tanah.  Pupuk organik mengandung unsur-unsur makro dan mikro meskipun dalam jumlah yang sedikit namun lengkap. Pengembalian jerami ke dalam tanah akan lebih baik setelah dilakukan proses fermentasi atau pengomposan pada jerami padi tersebut, agar ketika dibenamkan ke dalam tanah, tanah langsung dapat menyerapnya, meskipun pupuk dari jerami termasuk pupuk yang lambat penyerapannya (slow released). 
Selama ini banyak petani yang lupa untuk mengembalikan jerami ke dalam tanah, apalagi bila musim panen di musim kemarau, petani lebih mencari jalan singkat untuk menyingkirkan jerami dengan cara dibakar.  Atau karena faktor lain seperti banyak jerami yang diangkut oleh peternak sapi dari daerah lain yang mengalami kelangkaan pakan karena musim kemarau atau diambil oleh petani jamur dari daerah lain untuk dijadikan media tanam jamur seperti yang terjadi di Desa Sindanglaya.
Untuk mengingatkan petani akan pentingnya pengembalian jerami ke dalam tanah, maka diadakan pelatihan praktek fermentasi jerami oleh tim prima tani Kab. Subang bekerja sama dengan PPL setempat dan para petani.  Sumber mikroba pengompos (dekomposer) yang digunakan adalah super farm yang banyak tersedia di pasaran di sekitar Subang, agar petani mudah untuk mendapatkannya.

Cara pembuatan kompos jerami adalah sebagi berikut:
  1. Jerami ditumpuk dengan ketinggian mencapai 15-20 cm, tumpukan dapat diulang sampai mencapai ketinggian 1 meter.
  2. Pada setiap lapisan jerami dicipratkan larutan dekomposer.
  3. Kondisi optimum jerami yang akan dikomposkan berada pada kadar air 50-65%
  4. Bagian atas tumpukan jerami ditutup dengan plastik berwarna gelap untuk mempertahankan kelembaban dan untuk menghindari tumpukan terguyur hujan atau terkena panas matahari yang berlebihan
  5. Dilakukan pembalikan seminggu sekali.
  6. Kompos akan matang pada umur 6-7 minggu. Kompos yang matang berwarna kecoklatan dan tumpukan jerami terlihat mengempis hampir setengahnya
  7. Kompos dibongkar dan diangin-anginkan untuk menstabilkan kondisi kompos.

Share this article :

Post a Comment