Home » » Teknologi Produksi Kedelai untuk Lahan Sawah, Lahan Kering Masam, dan Lahan Pasang Surut Tipe C dan D (1)

Teknologi Produksi Kedelai untuk Lahan Sawah, Lahan Kering Masam, dan Lahan Pasang Surut Tipe C dan D (1)

Written By Muhammad Yusuf on Tuesday, December 13, 2011 | 8:44 PM

Di lahan sawah, kedelai umumnya ditanam pada musim kemarau setelah pertanaman padi. Sedangkan di lahan kering (tegalan) kedelai umumnya ditanam pada musim hujan. Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) telah merakit teknologi produksi kedelai untuk lahan sawah dan lahan kering, dan lahan pasang surut tipe C dan D yang diharapkan dapat meningkatkan produksi dan keuntungan usahatani. Dengan penggunaan varietas unggul baru yang sesuai dan teknologi yang tepat, hasil kedelai dapat mencapai lebih dari 2,0 t/ha.

Varietas dan Benih Unggul

1.    Varietas Unggul

  • Semua varietas unggul sesuai untuk lahan sawah.
  • Pilih varietas unggul yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan: ukuran bijinya besar atau kecil, kulit bijinya kuning atau hitam, toleransinya terhadap hama/penyakit dan kondisi lahan.
  • Dengan teknik budidaya yang tepat, semua varietas unggul dapat menghasilkan dengan baik, di lahan kering atau pasang surut.

    2.    Benih

    • Benih murni dan bermutu tinggi merupakan syarat terpenting dalam budidaya kedelai. Benih harus sehat, bernas, dan daya tumbuh minimal 85%, serta bersih dari kotoran.
    • Bila mungkin, gunakan benih berlabel dari penangkar benih. Apabila menggunakan benih sendiri, sebaiknya benih berasal dari pertanaman yang seragam (tidak campuran).
    • Di daerah endemik serangan lalat bibit, sebelum ditanam, benih  perlu diberi perlakuan (seed treatment) dengan insektisida berbahan aktif karbosulfan (misalnya Marshal 25 ST) takaran 5–10 g/kg benih.
    • Kebutuhan benih bergantung pada  ukuran benih dan jarak tanam yang digunakan. Untuk benih ukurankecil–sedang (9–12 g/100 biji), diperlukan 55–60 kg/ha, sedang untuk benih ukuran besar (14–18 g/100 biji) dibutuhkan 65–75 kg/ha.

      Benih Kedelai

      Pengelolaan Tanah dan Tanaman DI Lahan Sawah

      1.    Penyiapan Lahan

      • Tanah bekas pertanaman padi tidak perlu diolah (tanpa olah tanah = TOT), namun jerami padi perlu dipotong pendek.
      • Saluran drainase/irigasi dibuat dengan kedalaman 25–30 cm dan lebar 20 cm setiap 3–4 m. Saluran ini berfungsi untuk mengurangi kelebihan air bila lahan terlalu becek, dan sebagai saluran irigasi pada saat tanaman perlu tambahan air.
      • Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas tanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman.
        Saluran Drainase

        2.    Penanaman

        • Benih kedelai ditanam dengan tugal, kedalaman 2–3 cm.
        • Jarak tanam: 40 cm x 10–15 cm, 2 biji/lubang.
        • Untuk menghindari kekurangan air, sebaiknya kedelai ditanam tidak lebih dari 7 hari setelah tanaman padi dipanen.

          3.    Pemupukan

          • Pada sawah yang subur atau bekas padi yang dipupuk dengan dosis tinggi tidak perlu tambahan pupuk NPK. Sedangkan untuk sawah dengan kesuburan sedang dan rendah takaran pupuk yang digunakan adalah sebagai berikut.

          Jenis dan dosis
          pupuk organik
          Jenis pupuk
          anorganik
          Dosis pupuk anorganik (kg/ha)
          untuk tanah
          kurang subur
          untuk tanah
          cukup subur
          Tanpa jerami/pupuk kandangUrea50–7525–50

          SP3675–10050–75

          KCl100100




          5 ton jerami per hektar



          Urea5025

          SP3675–10050–75

          KCl7575




          2 ton pupuk kandang per hektar



          Urea2525

          SP3650–7550

          KCl7550

          4.    Penggunaan mulsa jerami padi

          • Bila dianggap perlu gunakan jerami sebanyak 5 ton/ha sebagai mulsa dengan cara dihamparkan merata, ketebalan <10 cm.
          • Mulsa bermanfaat untuk mengurangi pertumbuhan gulma, sehingga penyiangan cukup satu kali, yakni sebelum tanaman berbunga. Penggunaan mulsa juga dapat menekan serangan lalat bibit, dan kehilangan air tanah.
          • Untuk daerah yang tidak banyak gangguan gulma dan tidak berpotensi menimbulkan kebakaran, maka jerami boleh dibakar sebagai sumber pupuk K. Pembakaran jerami segera setelah kedelai ditanam tugal, apabila dilakukan dengan tepat, dapat lebih menyeragamkan pertumbuhan awal kedelai.
          Mulsa jerami

          5.    Pengairan

          • Umumnya budidaya kedelai tidak perlu pengairan, tetapi tanaman kedelai sangat peka terhadap kekurangan air pada awal pertumbuhan, pada umur 15–21 hari, saat berbunga (umur 25–35 hari), dan saat pengisian polong (umur 55–70 hari). Pada fase-fase tersebut tanaman harus dijaga agar tidak kekeringan.

          Pengelolaan Tanah dan Tanaman di Lahan Kering Masam

          1.    Penyiapan Lahan

          • Pengolahan tanah dilakukan sekali hingga dua kali (tergantung kondisi tanah).
          • Jika curah hujan masih cukup tinggi perlu dibuat saluran drainase setiap 4 m, sedalam 20–25 cm, sepanjang petakan.
          • Pada lahan yang baru pertama kali ditanami kedelai, benih perlu dicampur dengan rhizobium. Apabila tidak tersedia inokulan rhizobium (seperti Rhizoplus atau Legin), dapat digunakan tanah bekas pertanaman kedelai yang ditaburkan pada barisan tanaman kedelai.

          2.    Penanaman

          • Penanaman dilakukan dengan tugal, dengan jarak tanam 40 x 15 cm atau 30 x 20 cm, 2 biji/lubang.

          3.    Pengapuran

          • Kapur atau dolomit perlu diberikan dengan takaran ½ dari Al-dd (Aluminium yang dapat dipertukarkan); di berbagai daerah umumnya 1–1,5 ton/ha. Dolomit selain meningkatkan pH, juga menambah kandungan Ca dan Mg. Informasi kadar Al-dd dapat diperoleh dari petugas pertanian setempat.
          • Jika disertai pemberian pupuk kandang 2,5 ton/ha, maka takaran pengapuran cukup 1/4 dari Al-dd (500–750 kg dolomit/ha).
          • Dolomit disebar rata bersamaan dengan pengolahan tanah kedua atau paling lambat 2–7 hari sebelum tanam.
          • Jika diaplikasikan dengan cara disebar sepanjang alur baris tanaman, maka takaran dolomit dapat dikurangi menjadi hanya 1/3 dari takaran semula.

          4.    Pemupukan dan pengendalian gulma

          • Pupuk NPK diberikan dengan takaran 75 kg Urea, 100 kg SP36 dan 100 kg KCl per hektar. Semua pupuk tersebut paling lambat diberikan pada saat tanaman berumur 14 hari.
          • Penyiangan perlu dilakukan dua kali pada umur 15 dan 45 hari.
          • Pengendalian gulma secara kimia dengan herbisida dapat dilakukan sebelum pengolahan tanah atau setelah tanam dengan syarat benih ditutup dengan tanah pada saat tanam dan herbisida yang digunakan adalah jenis kontak.
          • Bersamaan penyiangan pertama sebaiknya dilakukan pembumbunan tanaman.

          Pengelolaan Tanah dan Tanaman
          di Lahan Pasang Surut Tipe C dan D

          1.   Penyiapan Lahan

          • Setelah panen padi, jerami dibabat kemudian dihamparkan dan dibiarkan selama 3 hari agar kering, kemudian dibakar.
          • Dua minggu setelah jerami dibakar, lahan disemprot dengan herbisida.
          • Pada lahan yang pembuangan airnya sulit, dibuat saluran drainase setiap 3–4 m.

          2.   Penanaman

          • Gunakan varietas kedelai yang sesuai, misalnya Anjasmoro atau Tanggamus.
          • Untuk daerah endemik serangan lalat kacang, sebaiknya benih  diberi perlakuan dengan insektisida berbahan aktif fipronil (misal Reagent) untuk mencegah serangan lalat kacang.
          • Cara tanam tugal dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm, 2 biji/lubang.

          3.   Perbaikan Lahan (Ameliorasi Lahan)

          • Ameliorasi lahan dengan pupuk kandang dosis 1 t/ha dan dolomit dosis 750 kg/ha. Sebelum diaplikasikan, pupuk kandang dicampur rata dengan dolomit.
          • Aplikasi dilakukan setelah tanam dengan cara disebar sepanjang barisan tanaman, sekaligus untuk menutup lubang tanam.

          4.     Pemupukan

          • Dosis pupuk 150 kg/ha Phonska + 50 kg SP36/ha atau 50–75 kg Urea + 100 kg SP36 50–100 kg KCl/ha. Pupuk-pupuk tersebut dicampur rata dan diaplikasikan saat tanaman berumur 15 hari dengan cara dilarik/disebar di samping barisan tanaman dengan jarak 5–7 cm dari tanaman.
          • Setelah pupuk diaplikasikan, diupayakan pupuk dapat ditutup dengan tanah.

          5.     Penyiangan

          • Penyiangan dilakukan dua kali. Penyiangan I dengan herbisida saat tanaman berumur 20 hari. Penyiangan II (jika diperlukan) dengan tenaga manusia saat tanaman berumur 40–45 hari.
          Share this article :

          Post a Comment