Home » » Proses Kimia Minyak Nabati

Proses Kimia Minyak Nabati

Written By Muhammad Yusuf on Monday, July 25, 2011 | 2:25 AM


KEGUNAAN :

Sebagai bahan : minyak goreng, bahan baku margarin, makanan, kue, dan sebagainya.


kandungan terbesar adalah lemak, yang berfungsi untuk:
1) sumber energi
2) pembawa vitamin A,D,E,K
3) mengandung asam lemak esensial terutama asam lemak tak jenuh

Bahan baku industri lain :
- sabun – cat – vernish
- kosmetik (sampo. Lipstik dll) – pelumas

BAHAN BAKU
Biji-bijian atau buah-buahan, yang memiliki nilai ekonomis :
- kelapa
- kelapa sawit
- jagung
- jarak
- olive (zaitun)
- kacang tanah
- biji kapuk
- biji kapas

PENGGOLONGAN MINYAK
Golongan jenuh
- tidak memiliki ikatan rangkap
- misal asam stearat (C17H35COOH)
Golongan monoolefinik
- memiliki 1 ikatan rangkap
- misal asam oleat (C17H33COOH)
Golongan poliolefinik
- memiliki 2 ikatan rangkap
- misal asam linoleat (C17H31COOH),
- asam linolenat (C17H29COOH)
Minyak alamiah mengandung campuran asam lemak yang tersusun tidak hanya oleh satu macam asam lemak, tetapi oleh 2 atau 3 macam asam lemak.
PERBEDAAN ANTARA MINYAK DAN LEMAK
Minyak :
  1. Pada suhu kamar berbentuk cair
  2. Banyak mengandung asam lemak tak jenuh
Lemak :
  1. Pada suhu kamar berbentuk padat
  2. Banyak mengandung asam lemak jenuh dengan rantai C panjang
  3. Catatan Asam lemak jenuh dengan rantai C pendek berbentuk cair

PROSES PRODUKSI MINYAK NABATI
Minyak kasar (minyak mentah = crude oil)
Perbaikan kualitas
- Rafinasi
- Fraksinasi
- Interesterifikasi

Cara memperoleh minyak kasar
Ada 2 cara :
1. press hidrolik : sisa minyak 5 – 7 %
    screw press : sisa minyak 4–6%
2. ekstraksi : sisa minyak ± 1 %
dengan pelarut : 
- hexan
- trichloro ethylene
- benzene
Hasil minyak kasar (crude oil) harus diolah lagi untuk mendapatkan kualitas minyak yang lebih baik

RAFINASI
Tujuan :
untuk menghilangkan kotoran dan bau yang tidak enak
Macam-macam proses :
a. Degumming
b. Netralisasi
c. Bleaching
d. Deodorisasi

Proses-proses dalam Rafinasi
  • Degumming
- Tujuan : untuk menghilangkan zat-zat terlarut/ koloid (resin gum, protein, fosfatida dalam minyak)
Cara :
Dengan penambahan asam (H3PO4, H2SO4 dsb) untuk membentuk flok-flok zat terlarut dan koagulasi koloid.
  • Netralisasi
- Tujuan : Untuk menghilangkan asam lemak bebas (FFA) yang dapat menimbulkan bau tengik
Cara :
- dengan menambah soda kaustik (proses penyabunan), juga untuk decolorisasi
- dengan destilasi uap dapat mereduksi FFA sampai tersisa 0,01 – 0,03 %
Proses-proses dalam Rafinasi
  • Bleaching
- Tujuan : untuk menghilangkan zat warna yang terlarut/terdispersi
- warna berasal bawaan bahan baku
a. Caratinoid (merah dan kuning)
b. Klorofil dan peptin (hijau)
- Cara :
a. Absorbsi dengan norit atau tanah pemucat
b. Secara kimia dengan prinsip reaksi oksidasi
c. Hidrogenasi & pemanasan
Proses-proses dalam Rafinasi
  • Deodorisasi
- Tujuan : untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak dikehendaki (0,001 – 0,1%), yang berasal dari karbohidrat tak jenuh, FFA dengan MR rendah, atau senyawa- senyawa aldehid dan keton
- cara : dengan destilasi uap

FRAKSIONASI
Tujuan : untuk memisahkan fraksi cair (minyak) dan fraksi padat (lemak)
Fraksi cair mengandung olein
Fraksi padat mengandung stearin
Cara :
a. Tanpa pelarut (fraksionasi kering)
b. Dengan pelarut (fraksionasi basah)
c. Dengan larutan deterjen (sodium lauryl sulfat)
Cara-cara Fraksionasi

Fraksionasi tanpa pelarut
Minyak dipanaskan sampai 700 C kemudian didinginkan dan suhu dipertahankan pada 500 C selama 24 jam
Fraksionasi dengan pelarut
Cara : dengan ditambahkan pelarut ke dalam minyak, kemudian diaduk perlahan-lahan sampai diperoleh fasa cair dan fasa padat
Bag atas : Fasa cair (campuran antara olein & pelarut) dipisahkan dengan destilasi
Bag bawah : Fasa padat (stearin)
Fraksionasi dengan larutan deterjen
* secara prinsip = fraksionasi kering, hanya ditambahkan deterjen untuk aksi pembasahan (wetting action)
* waktu pendinginan lebih cepat dan hasil pemisahan lebih baik

INTERESTERIFIKASI
Tujuan : untuk mengubah titik cair lemak
Prinsip :
jika lemak dipanaskan dengan adanya suatu katalisator (biasanya Natrium Ethoxida atau Natrium Methoxida) sampai temperatur 110 – 1600C, maka gugusan asam lemak dapat berubah posisi.
Dengan interesterifikasi ini, maka asam lemak jenuhnya dapat diubah menjadi asam lemak tak jenuh.
Share this article :

Post a Comment