Home » » Pemuliaan atau Budidaya Mawar

Pemuliaan atau Budidaya Mawar

Written By Muhammad Yusuf on Saturday, July 9, 2011 | 12:07 AM


Mawar adalah salah satu dari komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi tinggi serta dapat dibudidayakan untuk kepentingan komersial. tanaman ini banyak diminati oleh konsumen karena bunganya yang indah. Mawar mempunyai nilai ekonomi yang penting sebagai bunga potong maupun sebagai bahan baku untuk parfum.
Permintaan bunga mawar potong menduduki peringkat pertama, namun pengembangannya di Indonesia terbilang lambat karena masih terkendala propagasi secara konvensional yang tergantung terhadap musim, masalah kesehatan dan penyakit pada tanaman serta kecepatan multiplikasi yang rendah.
Tanaman Mawar, pada umumnya dipropagasi secara konvensional. Pemuliaan secara konvensional ini menghasilkan ribuan hibrida dan kultivar yang sebagian besar adalah bunga ganda dengan daun mahkota berlapis hasil dari mutasi benang sari menjadi daun mahkota tambahan. Sebagian besar Mawar hibrida atau kultivar dibuat untuk dinikmati keindahan bunganya pada taman-taman.
Para pemulia Mawar di abad ke dua puluh saat ini sedang berlomba-lomba untuk menghasilkan bunga-bunga yang berukuran besar serta berbau harum (atau tidak berbau), padahal Mawar liar pada zaman dahulu sangat berbau harum. Kultivar tertentu seperti Rosa banksiae sama sekali tidak memiliki duri. Hal tersebut mendorong perkembangan teknik kultur in vitro menjadi alternatif baru karena tidak ketergantungan terhadap musim karena dilakukan di ruangan tertutup. Teknik kultur in vitro juga memiliki daya multiplikasi yang tinggi dan dapat menghasilkan tanaman yang bebas bakteri dan cendawan.
Kultur jaringan merupakan metode untuk mengisolasi bagian dari tanaman seperti sekelompok sel atau jaringan yang ditumbuhkan dengan kondisi aseptik, sehingga bagian dari tanaman tersebut dapat tumbuh menjadi tanaman yang lengkap. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan salah satu bagian dari tanaman Mawar yang digunakan sebagai eksplan (jaringan, organ, embrio, sel tunggal, protoplas, dan sebagainya) dan ditanam pada media yang bernutrisi secara aseptis. Media tersebut mengandung berbagai konsentrasi hormon sebagai pendukung perumbuhan eksplan yang diinginkan. Yang menjadi dasar dari kultur jaringan adalah teori totipotensi.
Share this article :

Post a Comment