Home » » Hasil Samping Tanaman Kelapa

Hasil Samping Tanaman Kelapa

Written By Muhammad Yusuf on Saturday, July 23, 2011 | 11:27 PM


Tanaman kelapa mempunyai berbagai hasil samping yang sangat bermanfaat dan mempunyai nilai  ekonomi tinggi. Seperti jok mobil, nata de coco, arang briket, anyaman dan sebagainya. 
Tanaman kelapa merupakan komoditas perkebunan yang sangat potensial, disebut juga sebagai pohon kehidupan karena semua bagian tanaman kelapa bermanfaat bagi kebutuhan hidup manusia. 
Buah kelapa terdiri dari: sabut, tempurung, daging buah, dan air kelapa; semua bagian tersebut tidak ada yang terbuang dan dapat  dibuat untuk menghasilkan produk industri. Sabut kelapa antara lain dapat dimanfaatkan sebagai coir fibre, keset, sapu, jok mobil, dan matras. Daging buah dapat dipakai sebagai bahan baku untuk menghasilkan  kopra, minyak kelapa,  coconut cream, santan, dan kelapa parutan kering (desiccated coconut). sedangkan air kelapa dapat dipakai untuk membuat cuka, penggumpal lateks. dan nata de coco. Tempurung dapat dimanfaatkan untuk membuat charcoal, carbon aktif, arang briket, dan kerajinan tangan. Dari batang kelapa dapat dihasilkan bahan-bahan bangunan baik untuk kerangka bangunan maupun  untuk dinding serta atap, dan peralatan rumah tangga (pot, mebel, dan lain-lain). Daun kelapa dapat diambil lidinya yang dapat dipakai sebagai sapu, serta barang-barang anyaman. Berikut ini akan dibahas tentang pemanfaatan hasil samping kelapa yang telah banyak dilakukan: 
Sabut Kelapa 
Menurut United Coconut Association of the Philippines (UCAP), dari satu buah kelapa dapat diperoleh rata-rata 0,4  kg sabut yang mengandung 30% serat.
Serat dapat diperoleh dari sabut kelapa dengan cara perendaman dan mekanis.
Sabut kelapa sangat kaya dengan unsur Kalium yang  sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Oleh karena itu apabila sabut kelapa tidak dipergunakan  untuk produk-produk yang  laku dijual,  maka dapat dikembalikan ke kebun sebagai pupuk Kalium. 
Ekstraksi Serat dengan Perendaman 
Perendaman bertujuan untuk memisahkan/mengekstraksi berkas-berkas serat dari sekam yang mengikatnya dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme.
Caranya adalah dengan memasukkan sabut kelapa ke dalam kolam selama 1-3 bulan. Selama dalam peredaman ini, maka berbagai mikroorganisme akan berkembang dan sebagai hasil dari kegiatannya maka jaringan sekam yang mengikat serat terutama terdiri atas pektin perlahan-lahan akan larut dan disertai dengan timbulnya bau yang kurang sedap. Banyaknya sabut yang direndam disesuaikan dengan bak yang tersedia. Oleh karena waktu yang diperlukan terlalu lama dan dibutuhkan bak yang sangat luas, maka tara ini dianggap kurang efektif dan efisien. 
Ekstraksi Serat Menggunakan Mesin 
Cara ini menggunakan pemukul besi atau paku yang dipasang pada drum yang berputar cepat. Hasilnya  adalah serat berbulu yang bersih.  Serat yang diekstraksi akan diperoleh 40% serat berbulu dan 60% serat  matras. Dari 100 gram sabut yang diekstraksi diperoleh sekam 70%, serat matras 18% dan serat berbulu 12%. Serat matras digunakan untuk bahan pengisi (jok), bahan penyaring, matras, dan sebagainya. Sedangkan serat berbulu sangat baik untuk dibuat sikat pembersih, sapu, keset, dan lainnya. 
Tempurung Kelapa 
Pada umumnya tempurung dimanfaatkan sebagai bahan bakar. dalam bentuk tempurung kering atau arang tempurung. Tempurung, di samping dipergunakan untuk pembuatan arang, juga dipergunakan untuk pembuatan arang aktif, yang mempunyai kemampuan mengabsorpsi gas dan uap. Di samping itu arang aktif dapat dipergunakan sebagai kedok gas, filter rokok, ekstraksi bensin dari gas alam, pemurnian gas, menghilangkan bau limbah hasil buangan industri, bahan dasar pembuatan bateray, dan sebagainya. Arang aktif juga mampu menghilangkan warna dalam larutan, sehingga dapat dipergunakan untuk pemucatan minyak nabati, dekolorisasi larutan gula dan sebagainya. 
Pembuatan arang tempurung  dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu metode drum, metode lubang, dan metode tungku. Metode tungku sesuai untuk pengusahaan secara komersil, sedangkan metode  yang paling sesuai untuk pembuatan arang tempurung dalam skala kecil adalah metode drum.
Arang Briket
Tempurung merupakan bahan yang rapuh, sehingga mudah hancur selama penangannya. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam mengangkutnya, dan bahkan kesulitan dalam penggunaan tungku. Salah satu cara untuk mengatasi kesulitan ini adalah dengan membuat arang briket. Cara yang umum dilakukan adalah menggiling arang tempurung, mencapur dengan perekat, mencetak, dan bila perlu mengikatnnya.
Arang Tempurung Aktif
Potensi komersial arang tempurung terletak pada karbon aktifnya, kerena bahan ini sangat efektif  untuk mencegah adanya polusi,  gas beracun,  gas atau uap yang tidak dikehendaki.
Cara kerja tempurung aktif ini terutama daya afinitas (daya tarik menarik)nya yang selektif terhadap substansia tertentu. Substansia ini diadsorpsi pada permukaan arang dan permukaan arang ini dapat diperluas dengan cara memperkecil ukuran partikel arang. Daya afinitas yang sefektif dari arang aktif terhadap substansia khusus ini, dapat ditunjukkan oleh kemampuannya melakukan dekolorisasi larutan gula yang keruh. Arang tempurung aktif lebih disukai dibandingkan arang aktif dari bahan lain, karena daya adsorpsinya yang tinggi dan mudah  penanganannya disebabkan  oleh bentuknya  sebagai butiran yang keras, tidak mudah hancur menjadi bubuk. 
Kayu Kelapa 
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Mosteiro dkk (1976) menyatakan bahwa secara alami kayu kelapa pada bagian yang lunak dan tidak diperlakukan pengawetan akan habis dimakan rayap dan busuk karena jamur setelah 1,5 tahun, sedang pada bagian yang keras berlangsung selama 2 tahun 5 bulan. Agar kayu ini dapat dipergunakan dalam jangka waktu  yang lama,  maka perlu dilakukan pengawetan. 
Air Kelapa sebagai Nata de Coco 
Nata de coco merupakan  bahan makanan yang sangat lezat, yang dimakan dalam berbagai bentuk makanan seperti koktil buah, es krim  atau dalam sirup yang sangat baik untuk diet makanan berserat. Secara ringkas skema pembuatan nata de coco dapat dinyatakan sebagai berikut: 
Air kelapa yang telah disaring (12 mangkuk)  → dididihkan  → didinginkan  →diberi starter Acetobacter xylinum 2 mangkuk, asam asetat glacial 1/2 mangkuk, dan ditambah gula 1 mangkuk → dicampur hingga merata → disimpan selama 14 hari → nata de coco mentah → dipotong-potong, dicuci sampai rasa asam hilang, ditiriskan → ditambahkan sirup gula (2 mangkuk gula, 1 mangkuk air) →di masukkan dalam botol → direbus pada air mendidih 30 menit → nata de coco siap dikemas. 
Penggunaan Air Kelapa  sebagai Penggumpal Lateks 
Air kelapa mempunyai potensi untuk menurunkan pH  lateks dan cukup bersih dari kotoran fisik, apabila air kelapa difermentasikan dengan menggunakan ragi tape maka dapat terbentuk asam asetat atau asam  amino yang dapat menggumpalkan lateks. Berdasarkan hasil penelitian Puslitbun Sungai Putih, hasil yang baik untuk menggumpalkan  lateks adalah penggunaan air kelapa ditambah ragi 13,5% kemudian dilakukan fermentasi pada suhu 30°C selama 4 hari. Cara pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 
a. Siapkan air kelapa 
b. Tambahkan ragi 13,5% dari volume air kelapa tersebut 
c. Diamkan/diperam dan ditutup supaya  tidak tercampur bahan kotoran lain selama 4 hari 
Untuk menggumpalkan lateks, dipergunakan 5-10 cc larutan air kelapa tersebut ke dalam setiap 1 liter lateks. Keuntungan yang diperoleh adalah penggumpalan lebih cepat dan tidak mengotori karet sepanjang penanganannya bersih. 
Nanik Anggoro P
Penulis dari BBP2TP
Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 22 – 28 April 2009
Share this article :

Post a Comment