Home » » Menghilangkan Burik Pada Buah Jeruk

Menghilangkan Burik Pada Buah Jeruk

Written By Muhammad Yusuf on Saturday, June 18, 2011 | 4:11 AM

Buah jeruk yang burik atau kusam harga jualnya jatuh. Bagaimana mengatasinya? Menurut hasil survey yang dilakukan Badan Litbang Pertanian Deptan di sentra produksi jeruk manis, keprok dan siam di Jawa Timur, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat, ternyata buah jeruk yang burik disebabkan oleh serangan tungau karat jeruk (TKJ) dari famili Eriophyidae. Survey itu juga menemukan gejala serangan burik buah jeruk bisa mencapai 30%-40% per hektarnya. Kerugiannya, buah jeruk yang burik harga jualnya menurun antara 20%-30%. 
Transparan 
Seperti apa bentuk organisme yang menyebabkan buah jeruk menjadi burik? Organisme yang diberi nama tungau karat jeru ini adalah berwarna kuning transparan. Umur hidup TKJ tidak lama dan tergantung musim. Hasil penelitian menunjukkan untuk satu siklus hidup TKJ pada musim kemarau 7-10 hari dan pada musim penghujan 14 hari. Jumlah telur yang diletakkan satu ekor TKj betina dewasa sebanyak 20 butir. 
Serangan tungau karat jeruk (TKJ) dirasakan sangat merugikan. Serangan pada buah muda umur 2-3 bulan, terhitung dari saat berbunga, merupakan fase kritis saat kerusakan. Serangan awal pada buah menimbulkan gejala warna buah keperakan hingga kecoklatan, tergantung dari jenis jeruknya. 
Perubahan warna kulit jeruk karena terserang TKJ dikarenakan rusaknya jaringan tanaman pada lapisan sel epidermis. Seiring dengan perkembangan buah maka akan tampak gejala bekas tusukan pada permukaan kulit buah. Tak hanya itu kerugiannnya, serangan TKJ juga berpengaruh terhadap pertumbuhan diameter, bobot dan kandungan nutrisi buah serta dapat 
mengakibatkan gugur buah. 
Gejala serangan TKJ pada berbagai jenis buah jeruk ternyata beragam. Serangan tungau ini pada buah lemon menyebabkan kulit buah berwarna keperakan, sedang pada jeruk manis (orange) dan grape fruit buah berwarna russet, atau berwarna cokelat kekuningan atau cokelat kemerahan. Gejala lainnya adalah kulit buah menjadi lebih tebal daripada kulit buah yang tidak terserang. Juga, buah yang terserang menjadi lebih kecil ukurannya. 
Musuh Alami Populasi TKJ di lapangan bisa di kendalikan secara alami dengan menggunakan musuh alami seperti predator Phytoseidae, Chrysopidae. Untuk pengendaliannya, bisa dilakukan pengendalian secara hayati dan kimiawi. Pengendalian secara hayati dapat dilakukan dengan menggunakan entomopatogen Hirsutella sp. Sedangkan secara kimia TKJ dapat dikendalikan 
dengan akarisida berbahan aktif abamektin, propagit, dan dikofol, sesuai dosis anjuran. 
Pengendaliannya TKJ sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil monitoring pada periode kritis tanaman. Dari hasil penelitian di peroleh kesimpulan bahwa dengan pengendalian dengan akarisida sebanyak 2-3 kali tanaman menjelang berbunga dan pada saat pembentukan buah sangat efektif mengendalikan hama TKJ. 
Pemakaian akradisida disarankan berselang seling untuk menghindari atau menekan terjadinya resistensi TKJ.



Otto Endarto -Balai Penelitian Tanaman Jeru dan Buah Subtropika 
Di muat pada surat kabar Sinar Tani, 16-22 April 2008
Share this article :

Post a Comment