Home » » Budidaya Cabe

Budidaya Cabe

Written By Muhammad Yusuf on Saturday, June 11, 2011 | 5:51 PM

Meroketnya harga cabe beberapa pekan terakhir hingga menembus 100 ribu rupiah per kilogram cukup menyentak konsumen di tanah air.  Kenaikan harga yang sangat melonjak ini sungguh merepotkan bagi para konsumen baik rumah tangga, rumah makan, warung maupun industri olahan baik skala rumah tangga maupun besar.  Kenaikan harga cabe yang luar biasa ini dimungkinkan karena kurangnya pasokan dari beberapa sentra cabe,  akibat terkena banjir maupun serangan OPT (hama penyakit).
Kenaikan harga cabe ini sebenarnya merupakan peluang bagi kita untuk mengembangkan budidaya cabe pada lahan-lahan baru yang potensial.  Gejolak harga cabe ini juga disebabkan tergantungnya pasokan cabe pada beberapa sentra produksi di Jawa dan Sumatra.  Jika sentra cabe  di pulau Jawa mengalami gangguan produksi karena banjir atau serangan OPT maka pasokan juga akan berkurang yang mengakibatkan harga juga akan melonjak.  Seharusnya kita bisa mengembangkannya di kawasan lain sehingga tidak tergantung pada sentra cabe tertentu seperti Brebes misalnya. Padahal cabe dapat dibudidayakan baik didataran tinggi maupun rendah, cabe memerlukan lahan yang subur dengan tingkat kemasaman (pH) antara 5 -6.  Namun budidaya cabe juga berisiko berkaitan dengan penguasan teknis budidaya, penyediaan pembiayaan, iklim / cuaca, serangan organisme pengganggu tanaman (hama/penyakit) maupun stabilitas harga.
Sebenarnya budidaya cabe bukanlah sesuatu yang tidak bisa dikuasai dengan baik oleh para petani.  Sudah banyak teknis budidaya cabe ini yang di bahas baik oleh para pakar maupun agronom, secara umum budidaya cabe meliputui persiapan lahan, persemaian, penanaman, pemeliharan, pengendalian OPT dan pemanenan.
  1. Persiapan Lahan. Lahan diolah sempurna dengan dibajak dan digaru, namun sebelumnya ditebarkan pupuk kandang terlebih dulu dengan takaran 0,5 – 1 ton per hektar dan dibiarkan selama 1 minggu.  Selanjutnya ditaburkan kapur pertanian (Kaptan, Dolomit) sebanyak 0, 25 ton per 1.000 m persegi.  Tahapan selanjutnya di buat bedengan dengan ukuran lebar 100 cm dan ukuran parit selebar 80-100 cm.    Bedengan kemudian di tutup dengan mulsa baik dari sisa – sisa panen (jerami) maupun memakai mulsa plastik hitam perak dan dibuat jarak tanam 60 cm x 70 cm dengan pola zig zag. Biarkan selama 1 – 2 minggu.
  2. Persemaian bibit.  Sebelum disemaikan benih di rendam terlebih dulu dengan air hangat kemudian baru diperam selama semalam.  Persemaian dibuat dengan arah ke timur dengan naungan plastik, rumbia atau daun kelapa.  Media tumbuh untuk persemaian terdiri dari campuran tanah dengan pupuk kandang / kompos yang telah disaring terlebih dulu dengan perbandingan 3 : 1.  Kemudian masukan media tumbuh dalam polibag ukuran 4 x 6 cm.   Benih diletakkan secara hati-hati dalam polibag lalu ditutup dengan lapisan tipis campuran tanah dan pupuk kandang / kompos.  Persemaian selalu dijaga kelembabanya dengan menyiram air pada pagi dan sore hari.
  3. Penanaman. Bibit ditanam setelah bibit berumur 2 – 3 minggu.  Bibit memiliki daun antara 5 – 6 helai.  Sebelum tanam pilihlah bibit yang tumbuh normal, pertumbuhanya bagus dan pilih bibit yang tidak diserang hama/penyakit.  Sebelum ditanam dilepas dulu polibagnya, baru bibit dimasukkan ke ke lubang tanam dan tutup dengan tanah yang dicampur dengan pupuk kandang/kompos.  Penanaman dilakukan pada pagi atau sore hari.  Selesai tanam bibit disiram dengan air atau dicampur dengan pupuk organik cair (POC).
  4. Pengendalian OPT.  Pengendalian OPT merupakan teknik budidaya  yang harus dilakukan secara optimal.  Serangan OPT pada beberapa kasus menyebabkan kegagalan budidaya cabe dan menimbulkan kerugian yang besar.  Gangguan OPT ini sudah mulai sejak fase pembibitan sampai dengan penanaman di lahan.  Oleh karena itu  gangguan OPT ini maka harus dilakukan tindakan pengendalian secara tepat dan cepat sehingga gangguan OPT dapat dikendalikan dan tidak berkembang meluas yang dapat merugikan.    Berkaitan dengan pengendalian OPT ini akan dibahas tersendiri dalam tulisan selanjutnya.
  5. Pemeliharaan Tanaman.  Tindakan pemeliharaan tanaman cabe yang dapat dilakukan antara lain pengairan tanaman, pemupukan, pengamatan terhadap gangguan OPT termasuk pengendalian gulma dan “perempelan”.  (a).  Pengairan / irigasi perlu dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan tanaman, jika tanaman kondisinya memerlukan pengairan segera lakukan pengairan dengan sistem kocor atau dengan penggenangan.  Pengairan ini sebaiknya dilakukan pada sore sampai malam hari.  (b).  Pengamatan terhadap gangguan OPT dilakukan dengan memperhatikan kondisi tanaman secara cermat dan dilakukan secara rutin, jangan sampai gangguan OPT ini meluas dan berkembang yang merusak pertanaman.  Untuk gulma dapat dikendalikan dengan herbisida secara hati-hati atau secara mekanis.  (c).  Perempelan adalah pembuangan tunas-tunas baru yang tidak produktif, profil tanaman cabe yang bagus dan produktif adalah terdiri dari 2-3 cabang utama per tanaman, jika berlebihan berakibat tidak maksimalnya produksi.
  6. Pemupukan.  Selain dengan kocoran,pemupukan juga dilakukan dengan aplikasi penyemprotan pupuk organik cair (POC).  POC ini banyak sekali janisnya di pasaran, tinggal anda pilih sesuai dengan keperluan dan biaya yang tersedia.  Aplikasi POC ini dlakukan pada saat tanaman berumur 10, 20, 40 dan 50 hari setelah tanam (HST) dengan takaran  sesuai anjuran. Pemupukan dilakukan melalui penyiraman secara kocor (“pengocoran”) dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran ini merupakan campuran pupuk makro Urea, SP 36 dan KCl  dengan perbandingan 250 : 250 : 250  gr dalam 50 liter  air.  Diberikan pada umur 1 – 4 minggu setelah tanam (MST) dengan takaran 250 cc/lubang,  sedangkan pada umur 5 – 12 MST takaranya ditambah menjadi 500 cc/lubang tanam dengan perbandingan pupuk makro Urea, TSP dan KCl  sebesar 500 : 250 : 250  gr dalam 50 liter air.
  7. Panen dan Pasca panen.   Cabe sudah dapat dipanen pertama kali pada saat tanaman beumur antara 60 -75 hari setelah tanam (HST).   Panen dilakukan pada buah yang tingkat kemasakanya sudah mencapai antara 80 -90%, kecuali panen saat muda untuk produk cabe hijau tentu dilakukan pada saat kemasakan antara 50-60 % dan dilakukan pada pagi hari setelah embunya mengering.  Sortasi dilakukan sekaligus dilahan, pisahkan yang rusak / cacat/ bekas terkena serangan OPT.  Panen kedua dan seterusnya dilakukan 2-3 hari sesudahnya.
Mudah-mudahan petunjuk teknis budidaya cabe secara singkat ini dapat membantu kita untuk mengembangkan budidaya cabe mumpung harganya sedang membubung tinggi. Mari bertanam cabe untuk memanfaatkan momentum ditengah kenaikan harga cabe yang luar biasa ini (sumber foto : Google).
Share this article :

Post a Comment